Tingkatan arti kata BAIK versi Alqur’an (bagian pertama)

Dalam Fenomena kehidupan banyak yang mempersoalkan baik dan buruk  perbuatan seseorang,  ukuran dan karakternya selalu dinamis, sulit dipecahkan. Namun demikian karakter baik dan buruk perbuatan manusia dapat diukur menurut fitrah manusia. Kenyataannya yang ada dalam kehidupan, bahwa ada perbedaan pendapat  dalam melihat baik dan buruk. Sekarang terlihat buruk , tapi pada suatu saat dia terlihat baik atau sebaliknya.

Alqur’an secara jelas menuliskan bahwa kata ‘Baik’ itu memiliki arti dan makna yang terlihat sama walaupun  arti sebenarnya secara hakikatnya berbeda.

  • Thayyib. Artinya baik secara fisik. Dapat juga diartikan segala sesuatu yang oleh indra dan jiwa dirasakan baik / lezat. Namun dalam kontek Syar’i’, ditegaskan bahwa Thayyib artinya adalah segala sesuatu yang halal atau boleh untuk dikonsumsi sebab baik bagi tubuh, mengandung banyak kebaikan dan tidak mendatangkan mudharat atau penyakit bagi tubuh.

يَا أَيُّهَا النَّاسُ كُلُوا مِمَّا فِي الْأَرْضِ حَلَالًا طَيِّبًا وَلَا تَتَّبِعُوا خُطُوَاتِ الشَّيْطَانِ ۚ إِنَّهُ لَكُمْ عَدُوٌّ مُبِينٌ

Hai sekalian manusia, makanlah yang halal lagi baik dari apa yang terdapat di bumi, dan janganlah kamu mengikuti langkah-langkah syaithan; karena sesungguhnya syaithan itu adalah musuh yang nyata bagimu.(QS. Albaqarah, 168).

  • Khair. Artinya baik secara sifat. Maksudnya adalah  “kebaikan” yang bersifat permanen yang berhubungan dengan persoalan hukum atau syari’at yang bersumber dari Allah. “Khair” itu adalah nama atau sebutan bagi segala sesuatu yang terpuji dan disukai. Sesuatu yang terpuji dan disukai itu bisa dicapai apabila ada dorongan atau keinginan untuk mencapainya. Shalat adalah perbuatan yang baik, karena dia terpuji. Karena shalat adalah perbuatan terpuji, maka orang yang melakukan shalat itu sebagai sebuah kebaikan (khair) disukai dan dicintai oleh Allah.

وَلْتَكُنْ مِنْكُمْ أُمَّةٌ يَدْعُونَ إِلَى الْخَيْرِ وَيَأْمُرُونَ بِالْمَعْرُوفِ وَيَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنْكَرِ ۚ وَأُولَٰئِكَ هُمُ الْمُفْلِحُونَ

Dan hendaklah ada di antara kamu segolongan umat yang menyeru kepada Kebaikkan, menyuruh kepada yang ma’ruf dan mencegah dari yang munkar; merekalah orang-orang yang beruntung.(QS. Ali Imran, 104)

“Jadilah sebagian di antara kita sekelompok umat yang mengajak kepada kebaikan (yang berkaitan dengan hukum-hukum yang diturunkan dan ditetapkan oleh Allah).” Kata “khair” di dalam ayat ini memiliki arti “baik” yang berkaitan dengan persoalan hukum Tuhan. “Shalat” adalah suatu kebaikan yang telah ditetapkan oleh Allah. Mungkin ada orang yang menganggap bahwa shalat itu tidak baik, tetapi bagi Allah Shalat itu adalah baik  dilakukan untuk kebaikan manusia. Kebaikan shalat itu baik bagi pelakunya. Tidur adalah sesuatu yang baik, tetapi kebaikannya tidak ditetapkan dan tidak ditentukan oleh Allah. Tidur yang cukup dalam sehari baik bagi kesehatan kita. Oleh sebab itulah, maka di dalam adzan Subuh disebutkan kalimat ” ” (Shalat lebih baik daripada tidur).

Kata (khair) yang digunakan di dalam Al-Qur’an memiliki 22 makna. Makna itu ditentukan sesuai konteks yang digunakan di dalam ayat. Arti pertama adalah “kebaikan” yang merupakan lawan dari kata “kejahatan.”

  • Ma’ruf. Artinya baik secara sikap. Ma’ruf adalah sebuah sebutan bagi ‘sikap atau tindakan yang baik menurut akal dan syariat’. Sehingga siapapun pasti menerimanya. Ketenangan dan kedamaian yang dihasilkannya. Tidak ada siapapun yang bakal menolak dan membencinya. Itulah namanya ma’ruf.
    Ma’ruf dalam al-Quran mempunyai beragam makna sesuai konteks pembicaraan masing-masing ayatnya, kata maʻrûf diartikan dengan empat makna, yaitu:

    وَمَنْ كَانَ غَنِيًّا فَلْيَسْتَعْفِفْ ۖ وَمَنْ كَانَ فَقِيرًا فَلْيَأْكُلْ بِالْمَعْرُوفِ

    Barang siapa (di antara pemelihara itu) mampu, maka hendaklah ia menahan diri (dari memakan harta anak yatim itu) dan barangsiapa yang miskin, maka bolehlah ia makan harta itu menurut yang patut. (QS. An Nisa, ayat 6).

    لَا خَيْرَ فِي كَثِيرٍ مِنْ نَجْوَاهُمْ إِلَّا مَنْ أَمَرَ بِصَدَقَةٍ أَوْ مَعْرُوفٍ أَوْ إِصْلَاحٍ بَيْنَ النَّاسِ ۚ وَمَنْ يَفْعَلْ ذَٰلِكَ ابْتِغَاءَ مَرْضَاتِ اللَّهِ فَسَوْفَ نُؤْتِيهِ أَجْرًا عَظِيمًا

    Tidak ada kebaikan pada kebanyakan bisikan-bisikan mereka, kecuali bisikan-bisikan dari orang yang menyuruh (manusia) memberi sedekah, atau berbuat ma’ruf, atau mengadakan perdamaian di antara manusia. Dan barangsiapa yang berbuat demikian karena mencari keridhaan Allah, maka kelak Kami memberi kepadanya pahala yang besar.(QS. An Nisa, ayat 114)

    وَالَّذِينَ يُتَوَفَّوْنَ مِنْكُمْ وَيَذَرُونَ أَزْوَاجًا يَتَرَبَّصْنَ بِأَنْفُسِهِنَّ أَرْبَعَةَ أَشْهُرٍ وَعَشْرًا ۖ فَإِذَا بَلَغْنَ أَجَلَهُنَّ فَلَا جُنَاحَ عَلَيْكُمْ فِيمَا فَعَلْنَ فِي أَنْفُسِهِنَّ بِالْمَعْرُوفِ ۗ وَاللَّهُ بِمَا تَعْمَلُونَ خَبِيرٌ

    Orang-orang yang meninggal dunia di antaramu dengan meninggalkan istri-istri (hendaklah para istri itu) menangguhkan dirinya (ber’iddah) empat bulan sepuluh hari. Kemudian apabila telah habis ‘iddahnya, maka tiada dosa bagimu (para wali) membiarkan mereka berbuat terhadap diri mereka menurut yang patut. Allah mengetahui apa yang kamu perbuat.(QS. Al-Baqarah, ayat 234).

    وَلَا جُنَاحَ عَلَيْكُمْ فِيمَا عَرَّضْتُمْ بِهِ مِنْ خِطْبَةِ النِّسَاءِ أَوْ أَكْنَنْتُمْ فِي أَنْفُسِكُمْ ۚ عَلِمَ اللَّهُ أَنَّكُمْ سَتَذْكُرُونَهُنَّ وَلَٰكِنْ لَا تُوَاعِدُوهُنَّ سِرًّا إِلَّا أَنْ تَقُولُوا قَوْلًا مَعْرُوفًا ۚ وَلَا تَعْزِمُوا عُقْدَةَ النِّكَاحِ حَتَّىٰ يَبْلُغَ الْكِتَابُ أَجَلَهُ ۚ وَاعْلَمُوا أَنَّ اللَّهَ يَعْلَمُ مَا فِي أَنْفُسِكُمْ فَاحْذَرُوهُ ۚ وَاعْلَمُوا أَنَّ اللَّهَ غَفُورٌ حَلِيمٌ

    Dan tidak ada dosa bagi kamu meminang wanita-wanita itu dengan sindiran atau kamu menyembunyikan (keinginan mengawini mereka) dalam hatimu. Allah mengetahui bahwa kamu akan menyebut-nyebut mereka, dalam pada itu janganlah kamu mengadakan janji kawin dengan mereka secara rahasia, kecuali sekedar mengucapkan (kepada mereka) perkataan yang ma’ruf. Dan janganlah kamu berazam (bertetap hati) untuk beraqad nikah, sebelum habis ‘iddahnya. Dan ketahuilah bahwasanya Allah mengetahui apa yang ada dalam hatimu; maka takutlah kepada-Nya, dan ketahuilah bahwa Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyantun. (QS. Al-Baqarah, ayat 235).

    قَوْلٌ مَعْرُوفٌ وَمَغْفِرَةٌ خَيْرٌ مِنْ صَدَقَةٍ يَتْبَعُهَا أَذًى ۗ وَاللَّهُ غَنِيٌّ حَلِيمٌ

    Perkataan yang baik (pemberian maaf) lebih baik dari sedekah yang diiringi dengan sesuatu yang menyakitkan (perasaan si penerima). Allah Maha Kaya lagi Maha Penyantun. (QS. Albaqarah, ayat 263).

    وَلَا تُؤْتُوا السُّفَهَاءَ أَمْوَالَكُمُ الَّتِي جَعَلَ اللَّهُ لَكُمْ قِيَامًا وَارْزُقُوهُمْ فِيهَا وَاكْسُوهُمْ وَقُولُوا لَهُمْ قَوْلًا مَعْرُوفًا

    Dan janganlah kamu serahkan kepada orang-orang yang belum sempurna akalnya, harta (mereka yang ada dalam kekuasaanmu) yang dijadikan Allah sebagai pokok kehidupan. Berilah mereka belanja dan pakaian (dari hasil harta itu) dan ucapkanlah kepada mereka kata yang baik. (QS. An Nisa, 5)

    وَإِذَا حَضَرَ الْقِسْمَةَ أُولُو الْقُرْبَىٰ وَالْيَتَامَىٰ وَالْمَسَاكِينُ فَارْزُقُوهُمْ مِنْهُ وَقُولُوا لَهُمْ قَوْلًا مَعْرُوفًا

    Dan apabila sewaktu pembagian itu hadir kerabat, anak yatim dan orang miskin, maka berilah mereka dari harta itu (sekedarnya) dan ucapkanlah kepada mereka perkataan yang baik. (QS. An Nisa, ayat 8)

    وَلِلْمُطَلَّقَاتِ مَتَاعٌ بِا لْمَعْرُوفِ ۖ حَقًّا عَلَى الْمُتَّقِينَ

    Kepada wanita-wanita yang diceraikan (hendaklah diberikan oleh suaminya) mut’ah menurut yang ma’ruf (Patut), sebagai suatu kewajiban bagi orang-orang yang bertakwa. (QS. Al Baqarah, 241).

Sebaliknya sebagai lawan dari kata maʻrûf adalah kata munkar mempunyai arti asal lawan dari pengetahuan yang dapat menenangkan hati. Munkar dan ingkar masih dari satu akar yang sama.  Asal makna keduanya adalah terlintasnya sesuatu yang tidak dibayangkan oleh hati. Dalam kaitannya dengan redaksi munkar,  memaknai munkar sebagai suatu perbuatan yang dianggap buruk oleh akal sehat atau dinilai buruk oleh syariat meski dinilai baik oleh akal manusia biasa. Al-Munawi menambahkan bahwa mungkar adalah suatu tindakan atau ucapan yang tidak diridai oleh Allah swt.

 

Bid. SDM

 

 

 

About Abu Muhtaramun 53 Articles
Tidak ada yang perlu diceritakan tentang siapa 'ABU MUHTARAMUN'. Karena ia bukan siapa siapa dan tidak menentang siapa pun juga. Jadi ia tidak perlu ditentang apalagi ditantang. Karena setiap Pertentangan berakibat pada Perselisihan dan berakhir pada Penantangan...? Cukup berkenalan saja. Karena Kenal itu perlu dan menjadi Terkenal itu penting. Makin terkenal makin banyak Kepentingan yang sebenarnya nggak penting penting sekali, mungkin dua-tiga kali bahkan berkali kali. Maafkan.

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*