Perspektif Alqur’an tentang MANUSIA (bag Pertama)

Manusia sebagai makhluk yang paling unik dan Istimewa dibandingkan makhluk lainnya di bumi ini. Manusia mempunyai kelebihan yang luar biasa. Kelebihan itu adalah dikaruniai akal. Dengan karunia akal inilah, manusia dapat mengembangkan bakat dan potensi yang dimilikinya serta mampu mengatur dan mengelola ciptaan Allah berupa alam semesta  sebagai amanah.

Selain itu manusia juga dilengkapi unsur lain yaitu akal (fikiran), qalbu (hati). Dengan akal dan  qalbu manusia dapat menjadikan dirinya sebagai makhluk bermoral, merasakan keindahan, kenikmatan beriman dan kehadiran Ilahi secara spiritual.

Secara etimologi,  akal memiliki arti al-Imsak (menahan), ar-Ribath (ikatan), al-Hajr (menahan), an-Nahi (malarang), dan al-Man’u (mencegah). Sedangkan secara terminologi, akal adalah segala potensi yang ada pada diri manusia yang disiapkan untuk menerima ilmu pengetahuan, mampu menahan dan mengikat hawa nafsu. Akal memiliki dua makna yaitu :

  1.  Akal Jasmani, salah satu organ tubuh yang lazim disebut dengan otak dan  organ yang bekerja dengan cara berfikir.
  2. Akal Ruhani, cahaya nurani yang dipersiapkan oleh Allah SWT yang berpotensi untuk memperoleh pengetahuan dan kognisi melalui proses membaca dan berfikir. Sehingga dapat disimpulkan bahwa akal merupakan daya pikir manusia untuk memperoleh pengetahuan yang bersifat rasional dan dapat menentukan eksistensi manusia.

Selain akal manusia juga dibekali akan qalb (hati), secara bahasa qalb berarti bolak-balik, dan ini menjadi karakteristik dari hati itu sendiri yang memiliki sifat tidak konsisten dan perlu adanya pengelolaan tersendiri dengan bantuan nur ilahi. Pengertian qalb terdiri dari dua aspek, yaitu aspek jasmani dan aspek ruhani.

  1. Qalbun jasmani adalah organ tubuh yang berbentuk seperti jantung pisang yang terletak di dalam dada sebelah kiri.
  2. Qalbun ruhani adalah sesuatu yang bersifat halus, ruhaniah, dan ketuhanan juga memiliki potensi afektif, iman, dzikir, taqwa.

Terminologi qalun dan fu’ad untuk menyebut hati manusia ketika dalam keadaan ketentraman dan keyakinan. Sedangkan penggunaan kata shadr yang berarti dada atau depan untuk menyebutkan keadaan suasana hati dan jiwa sebagai satu kesatuan psikologis dalam kondisi yang lapang dan tak terbebani maupun sempit dan sedih. Al-Qur’an menggunakan terminologi qalbun untuk menyebutkan akal ketika qalbun fi shuduur dalam keadaan buta yang tidak mampu memahami realitas dan nilai kehidupan.

Di dalam al-Quran terdapat lima istilah kunci (key term) yang meskipun mengacu pada makna pokok manusia, tetapi memiliki makna signifikan yang berbeda-beda. Ketiga istilah kunci itu adalah Al Basyar, Al Ins, Al Insan, Bani Adam,  dan An-Naas.

  1. Al Basyar. Konsep albasyar menunjukkan makna biologis  dan makna fisiologis manusia yang mempunyai bentuk dan fisik seperti  postur tubuh, mengalami pertumbuhan dan perkembangan jasmani, makan, minum, melakukan hubungan seksual, bercinta, dan lain-lain. Dengan kata lain, Albasyar dipakai untuk menunjuk dimensi alamiah yang menjadi ciri pokok manusia pada umumnya. Fitrah manusia memang bergerak dan dinamis untuk memenuhi aspek-aspek kebutuhan biologis ini Allah SWT memberikan aturan syariah yang benar agar manusia senantiasa mendapat ridha Allah dan menjadi manusia yang sempurna (insan kamil). Albasyar ini juga dibekali dua sifat yang berlawanan satu dengan lain yaitu sifat Fujuur (Kapasitas Maksiat) dan sifat taqwa (Kapasitas Ta’at).  وَإِذْ قَالَ رَبُّكَ لِلْمَلَائِكَةِ إِنِّي خَا لِقٌ بَشَرًا مِنْ صَلْصَالٍ مِنْ حَمَإٍ مَسْنُونٍ. “Dan (ingatlah), ketika Tuhanmu berfirman kepada para malaikat: “Sesungguhnya Aku akan menciptakan Basyar (manusia) dari tanah liat kering (yang berasal)                dari lumpur   hitam    yang   diberi  bentuk”.  (QS. Al Hijr, 28). قُلْ إِنَّمَا أَنَا بَشَرٌ مِثْلُكُمْ يُوحَىٰ إِلَيَّ أَنَّمَا إِلَٰهُكُمْ إِلَٰهٌ وَاحِدٌ  “Katakanlah (hai Muhammad): Sesungguhnya  aku ini manusia biasa seperti kamu, yang diwahyukan kepadaku: “Bahwa sesungguhnya Tuhan kamu itu adalah Tuhan yang Esa”. ”. (QS. AlKahfi, 110).
  2. Al Ins. Secara bahasa, Ins berarti “nampak, lembut, jinak, akrab, ramah, menyenangkan; dan kesan ini berkebalikan dengan istilah jinn yang artinya “tertutup” atau “tersembunyi”, sehingga menimbulkan kesan liar, misterius, menakutkan. Kata Ins juga merupakan lawan dari nufur (النفور), yakni lari menjauh. Bagian dari seekor hewan yang menjadi tempat paling mudah ditunggangi, yakni punggung, disebut dengan Insiyyu ( إنسي ); demikian pula bagian belakang busur yang menghadap ke pemanah. Dapat juga dikatakan bahwa manusia disebut dengan Ins karena mereka tidak bisa hidup tanpa saling akrab dan membantu satu sama lain; atau karena manusia cenderung akrab dengan segala sesuatu yang biasa dilakukannya. Jadi, istilah Ins ini merujuk kepada karakter umum jenis manusia yang saling membantu, akrab, dan ramah. Manusia sebagai Ins adalah “makhluk sosial” yang cenderung tinggal di keramaian, membentuk keluarga dan kelompok, bekerja-sama, dst. Inilah fitrah manusia yang telah Allah tanamkan, berkebalikan dengan bangsa jin yang suka tempat-tempat sunyi, penyendiri, dan cenderung jahat. Jika kita membandingkan sifat-sifat alami manusia dengan sifat-sifat asasi jin – misalnya, yang dijelaskan Al-Qur’an dalam surah al-Jinn – maka kita akan memahami seberapa besar perbedaan diantara kedua makhluk ini, meskipun ada titik-titik persamaan diantara mereka. وَكَذَٰلِكَ جَعَلْنَا لِكُلِّ نَبِيٍّ عَدُ وًّا شَيَا طِينَ الْإِنْسِ وَا لْجِنِّ يُوحِي بَعْضُهُمْ إِلَىٰ بَعْضٍ زُخْرُفَ الْقَوْلِ غُرُورًا  “Dan demikianlah Kami jadikan bagi tiap-tiap nabi itu musuh, yaitu syaitan-syaitan (dari jenis) manusia dan (dan jenis) jin, sebagian mereka membisikkan kepada sebagian yang lain perkataan-perkataan yang indah-indah untuk menipu (manusia)”. (QS. Al An’aam, 112). وَيَوْمَ يَحْشُرُهُمْ جَمِيعًا يَا مَعْشَرَ الْجِنِّ قَدِ اسْتَكْثَرْتُمْ مِنَ الْإِ نْسِ ۖ وَقَالَ أَوْلِيَا ؤُهُمْ مِنَ الْإِ نْسِ رَبَّنَا اسْتَمْتَعَ بَعْضُنَا بِبَعْضٍ وَبَلَغْنَا أَجَلَنَا الَّذِي أَجَّلْتَ لَنَا ۚ قَالَ النَّارُ مَثْوَاكُمْ خَالِدِينَ فِيهَا إِلَّا مَا شَاءَ اللَّهُ ۗ إِنَّ رَبَّكَ حَكِيمٌ عَلِيمٌ.           Dan (ingatlah) hari di waktu Allah menghimpunkan mereka semuanya (dan Allah berfirman): “Hai golongan jin, sesungguhnya kamu telah banyak menyesatkan manusia“, lalu berkatalah kawan-kawan meraka dari golongan manusia: “Ya Tuhan kami, sesungguhnya sebagian daripada kami telah dapat kesenangan dari sebagian (yang lain) dan kami telah sampai kepada waktu yang telah Engkau tentukan bagi kami”. Allah berfirman: “Neraka itulah tempat diam kamu, sedang kamu kekal di dalamnya, kecuali kalau Allah menghendaki (yang lain)”. Sesungguhnya Tuhanmu Maha Bijaksana lagi Maha Mengetahui. (QS. Al An’aam,  128).
  3. Al Insaan. Kata al-Insan yang berasal dari kata al-uns, . Secara etimologi, al-Insan dapat diartikan makhluk harmonis, lemah lembut, tampak, atau pelupa. Dan ada juga dari akar kata Naus yang mengandung arti “pergerakan atau dinamisme”. Merujuk pada asal kata al- Insan dapat kita pahami bahwa manusia pada dasarnya memiliki potensi yang positif untuk tumbuh serta berkembang secara fisik maupun mental spiritual. Di samping itu, manusia juga dibekali dengan sejumlah potensi lain, yang berpeluang untuk mendorong ia ke arah tindakan, sikap, serta perilaku negatif dan merugikan.
    Al-Insan dihubungkan dengan keistimewaan manusia sebagai khalifah dan pemikul amanah, yang dapat dipahami melalui: Pertama, Manusia dipandang sebagai makhluk unggulan atau puncak penciptaan Tuhan. Keunggulannya terletak pada wujud kejadiannya sebagai makhluk yang diciptakan dengan sebaik-baik penciptaan yang berbeda dengan hewani.
    لَقَدْ خَلَقْنَا الْإِ نْسَا نَ فِي أَحْسَنِ تَقْوِيمٍ
    Artinya: sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dalam bentuk yang sebaik-baiknya. (QS. At Tiin, 4). Kedua, manusia adalah makhluk yang memikul amanah (33: 72), amanah adalah menemukan hukum alam, menguasainya atau dalam istilah al-Qur’an “mengetahui nama-nama semuanya” dan kemudian menggunakannya dengan inisiatif moral insani, untuk menciptakan tatanan dunia yang baik. Mengutip berbagai pendapat para mufassir tentang makna amanah dan memilih makna amanah sebagai predisposisi (isti’dad) untuk beriman dan mentaati Allah. إِنَّا عَرَضْنَا الْأَمَا نَةَ عَلَى السَّمَا وَا تِ وَالْأَ رْضِ وَالْجِبَا لِ فَأَ بَيْنَ أَنْ يَحْمِلْنَهَا وَأَشْفَقْنَ مِنْهَا وَحَمَلَهَا الْإِ نْسَا نُ ۖ  إِنَّهُ كَا نَ ظَلُومًا جَهُولًا . “Sesungguhnya Kami telah mengemukakan amanat kepada langit, bumi dan gunung-gunung, maka semuanya enggan untuk memikul amanat itu dan mereka khawatir akan mengkhianatinya, dan dipikullah amanat itu oleh manusia. Sesungguhnya manusia itu amat zalim dan amat bodoh”. (QS. Al Ahzaab, 72). Ketiga, karena manusia  dihubungkan dengan konsep tanggung jawab. أَيَحْسَبُ الْإِ نْسَا نُ أَنْ يُتْرَكَ سُدً ى . Apakah manusia mengira, bahwa ia akan dibiarkan begitu saja (tanpa pertanggung jawaban….?) (QS. Al Qiyaamah, 36). Keempat, dalam menyembah Allah, insan sangat dipengaruhi lingkungannya. Bila ia ditimpa musibah, ia cenderung menyembah Allah dengan ikhlas; bila ia mendapat keberuntungan ia cenderung sombong, takabur, dan bahkan musyrik. وَإِذَا مَسَّ الْإِ نْسَا نَ الضُّرُّ دَعَا نَا لِجَنْبِهِ أَ وْ قَاعِدًا أَ وْ قَا ئِمًا فَلَمَّا كَشَفْنَا عَنْهُ ضُرَّهُ مَرَّ كَأَ نْ لَمْ يَدْعُنَا إِ لَىٰ ضُرٍّ مَسَّهُ ۚ كَذَٰ لِكَ زُيِّنَ لِلْمُسْرِفِينَ مَا كَا نُوا يَعْمَلُونَ . “Dan apabila manusia ditimpa bahaya dia berdoa kepada Kami dalam keadaan berbaring, duduk atau berdiri, tetapi setelah Kami hilangkan bahaya itu daripadanya, dia (kembali) melalui (jalannya yang sesat), seolah-olah dia tidak pernah berdoa kepada Kami untuk (menghilangkan) bahaya yang telah menimpanya. Begitulah orang-orang yang melampaui batas itu memandang baik apa yang selalu mereka kerjakan”. (QS. Yunus, 12).

bersambung…

 

Bid. SDM.

About Abu Muhtaramun 54 Articles
Tidak ada yang perlu diceritakan tentang siapa 'ABU MUHTARAMUN'. Karena ia bukan siapa siapa dan tidak menentang siapa pun juga. Jadi ia tidak perlu ditentang apalagi ditantang. Karena setiap Pertentangan berakibat pada Perselisihan dan berakhir pada Penantangan...? Cukup berkenalan saja. Karena Kenal itu perlu dan menjadi Terkenal itu penting. Makin terkenal makin banyak Kepentingan yang sebenarnya nggak penting penting sekali, mungkin dua-tiga kali bahkan berkali kali. Maafkan.

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*