KETIKA TUHAN MENCIPTAKAN PARA IBU

Kala itu, Tuhan telah bekerja enam hari lamanya.

Kini giliran diciptakan para ibu.

Seorang malaikat menghampiri Tuhan dan berkata pelan :

“Tuhan,….. banyak nian waktu yang telah KAU habiskan  untuk menciptakan makhluq ini?”

Dan Tuhan menjawab pelan:

“Tidakkah kau lihat perincian yang harus dikerjakan?

Benarkah??? Apakah saja itu Tuhan…. tanya malaikat heran…

Tuhan menjawab perlahan

Ibu ini harus waterproof (tahan air) tapi bukan dari plastik.

Harus terdiri dari 180 bagian yang lentur, liat dan tidak cepat lelah.

Ia harus bisa hidup dari sedikit teh kental dan makanan seadanya.

Memiliki kuping yang lebar untuk menampung keluhan suami dan anak-anaknya.

Memiliki ciuman yang dapat menyembuhkan kaki dan tangan yang terluka,

Lidah yang manis untuk merekatkan hati yang patah,

Dan enam pasang tangan!!

Malaikat itu menggeleng-gelengkan kepalanya:

Enam pasang tangan….? ck ck ck —

“Tentu saja! Bukan tangan yang merepotkan,

melainkan tangan yang melayani sana sini,

mengatur segalanya menjadi lebih baik….”
jawab Tuhan.

Juga…….. tiga pasang mata

“Bagaimana modelnya?” Malaikat semakin heran.

Tuhan mengangguk-angguk.
“Sepasang mata yang dapat menembus pintu yang tertutup rapat dan bertanya:
“Apa yang sedang kau lakukan disana?”,

padahal sepasang mata itu sudah mengetahui jawabannya.

“Sepasang mata kedua sebaiknya diletakkan di belakang kepalanya,

sehingga ia bisa melihat ke belakang tanpa menoleh.
Artinya, ia dapat melihat apa yang sebenarnya tak boleh ia lihat

dan pasang mata ketiga untuk menatap lembut seorang anak yang mengakui kekeliruannya.

Mata itu harus bisa bicara!

Mata itu harus berkata:

“Saya mengerti dan saya sayang padamu”.

Meskipun tidak diucapkan sepatah katapun.

“Tuhan”,….  kata malaikat itu lagi,

“Istirahatlah”

“AKU tidak mau istirahat,

AKU sudah hampir selesai.”

Ia harus bisa menyembuhkan diri sendiri kalau ia sakit.

Ia harus bisa memberi makan enam anak dengan satu setengah ons daging

Ia juga harus menyuruh anak umur 9 tahun mandi

pada saat anak itu tidak ingin mandi……

Akhirnya Malaikat membolak-balikkan contoh Ibu dengan perlahan.
“Terlalu lunak”, katanya memberi komentar.

“Tapi kuat!” Kata Tuhan bersemangat.

“Tak kan kau bayangkan betapa banyaknya beban yang  dapat ia sandang”

“Apakah ia dapat berpikir?”  tanya malaikat lagi.

“Ia bukan saja dapat berpikir,

tapi ia juga dapat memberi masukan, ide dan gagasan,

kata Tuhan……

Akhirnya Malaikat menyentuh sesuatu di pipi,

“Eh, ada kebocoran di sini”.

“Itu bukan kebocoran”, kata Tuhan.

“Itu adalah air mata….

air mata kesenangan,

air mata kesedihan,

air mata kekecewaan,

air mata kesakitan,
air mata kesepian,

air mata kebanggaan,

air mata….,

air mata…,

dan air mata….”

Tuhan……

“KAU memang ahlinya….”,

Malaikat berkata pelan.

 

DKM Albarokah

Sebuah renungan tentang Perempuan dan Ibu

 

About Abu Muhtaramun 55 Articles
Tidak ada yang perlu diceritakan tentang siapa 'ABU MUHTARAMUN'. Karena ia bukan siapa siapa dan tidak menentang siapa pun juga. Jadi ia tidak perlu ditentang apalagi ditantang. Karena setiap Pertentangan berakibat pada Perselisihan dan berakhir pada Penantangan...? Cukup berkenalan saja. Karena Kenal itu perlu dan menjadi Terkenal itu penting. Makin terkenal makin banyak Kepentingan yang sebenarnya nggak penting penting sekali, mungkin dua-tiga kali bahkan berkali kali. Maafkan.

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*