Nasehat Ibn Khaldun, Pemikir Islam Pada Khalifah Abbasiyah

Inilah nasehat Ibn Khaldun, ulama Islam yang hidup pada abad ke-13 untuk ke- Khalifahan Abbasiyah di ambang keruntuhan setelah penjarahan, pembakaran, dan penghancuran Baghdad dan wilayah disekitarnya oleh bangsa Mongol pada tahun 1258.  Nasehat tersebut di berikan pada sang Khalifah untuk mencegah kemunduran dan dis-integrasi peradaban Islam.

  1. Kekuatan penguasa (Al-Mulk) tidak akan terwujud kecuali dengan implementasi Syari’ah
  2. Syari’ah tidak dapat terimplementasi kecuali dengan Penguasa (Al-Mulk)
  3. Penguasa tidak dapat memperoleh kekuatan kecuali melalui Rakyat (ar-rijal)
  4. Rakyat tidak dapat dipelihara kecuali dengan Kekayaan (al-mal)
  5. Kekayaan tidak dapat diperoleh kecuali melalui Pembangunan (al-imarah)
  6. Pembangunan tidak dapat dicapai kecuali melalui Keadilan (al-‘adl)
  7. Keadilan adalah kriteria (al-mizan) Alloh menilai hamba-Nya dan
  8. Penguasa bertanggungjawab mengaktualisasikan Keadilan.

Nasehat  tersebut yang dikenal sebagai Eight Wise Principles [kalimat hikamiyyah] atau Circle Equity yang ternyata tidak hanya di pakai di dunia Islam, tetapi juga akhirnya pemikiran beliau dipakai di teori pemikiran barat.  John Keyness mengadopsi untuk pemikiran teori Kennesyian 5 abad setelah masa Ibn Khaldun yang akhir nya dijadikan acuan para ekonom di seluruh dunia dalam mempelajari Ekonomi Makro,

Nasehat tersebut terdapat dalam buku beliau : Muqaddimah yang diselesaikan pada November 1377.

Muqaddimah secara harfiah bararti ‘pembukaan’ atau ‘introduksi’ dan merupakan jilid pembuka dari tujuh jilid tulisan sejarah, yang secara bebas diterjemahkan ke dalam buku “The Book of Lessons and the Record of Cause and Effect in the History of Arabs, Persians and Berbers and Their Powerful Contemporaries.”

Muqaddimah mencoba untuk menjelaskan prinsip-prinsip yang menentukan kebangkitan dan keruntuhan dinasti yang berkuasa (daulah) dan peradaban (‘umran). Tetapi bukan hanya itu saja yang dibahas,

Muqaddimah juga berisi diskusi ekonomi, sosiologi dan ilmu politik, yang merupakan kontribusi orisinil Ibnu Khaldun untuk cabang-cabang ilmu tersebut. Ibnu Khaldun juga layak mendapatkan penghargaan atas formula dan ekspresinya yang lebih jelas dan elegan dari hasil karya pendahulunya atau hasil karya ilmuwan yang sejaman dengannya. Wawasan Ibnu Khaldun terhadap beberapa prinsip-prinsip ekonomi sangat dalam dan jauh kedepan sehingga sejumlah teori yang dikemukakannya hampir enam abad yang lalu sampai sekarang tidak diragukan merupakan perintis dari beberapa formula teori modern.

 

Pertanyaannya, apakah nasehat tersebut masih relevan bisa digunakan dalam implementasi Dewan Kemakmuran Masjid ??? bisakah ? atau tepatnya maukah ?

 

 

Wasalam,

DKM Al Barokah

 

Leave a Reply

Your email address will not be published.