Maka Ni’mat Tuhan manakah yang kamu dustakan…?

Yang dimurkai Allah  ialah yang kufur ni’mat, yaitu mereka yang tidak menerima dan mensyukuri nikmat dari Allah akan tetapi justru mendustai dan mengingkarinya. Padahal, nikmat dari Allah tiada terhitung. Sampai-sampai, Allah menegur hingga 31 kali dalam Q.S. Ar Rahman.

فَبِاَىِّ اٰلَاۤءِ رَبِّكُمَا تُكَذِّبٰنِ

“Maka nikmat Tuhanmu yang manakah yang kamu dustakan…?”

Alangkah sering kita merasa keberhasilan didapat berkat jerih payah dan prestasi kita sendiri, tanpa campur tangan Allah? Tapi, alangkah sering kita pertanyakan peran Allah ketika gagal.

Yang tamak niscaya sesat, boros dan mubazir. Mungkin karena sifat dan sikap itu, ia tidak menunaikan hak orang lain yang terkandung di dalam kenikmatan yang diberikan Allah padanya. “Tiada menyadari bahwa sebelumnya bukan siapa siapa dan gak punya apa-apa”….. ketika sudah menjadi siapa dan menjadi orang berpunya ia belum tentu mau untuk berbagi; tidak sedekah, infaq, dan zakat. Yang sesat niscaya yang menyalahgunakan kenikmatan dari Allah; bukan untuk membantu mereka yang kekurangan tapi justru untuk memamerkan kelebihan. Padahal, barangsiapa yang bersyukur dan berbagi, ia akan menerima kenikmatan sejati, yaitu kebahagiaan dunia akhirat.

Terkadang pemahaman dan ungkapan tentang rasa Syukur bagi setiap orang itu berbeda. Pada akhirnya dapat menyeret seseorang ke jurang kesalahan yang fatal. Menahan ‘Amal Jariyah seseorang karena ketidak-tahuan atau ketidak-pedulian terhadap ‘Amal Jariyah orang lain yang bukan berupa uang menyebabkan ia melakukan hal yang demikian.

Ada orang yang beramal dengan Ilmunya, ada yang beramal dengan Tenaganya, ada juga yang beramal dengan Pola Fikirnya dan lain sebagainya.  Karena Amal ini tidak dan  bukan berupa uang yang dapat langsung dibelanjakan sesuatu barang atau keperluan lainnya sehingga ‘amal jariyah pemberian seseorang itu jadi tertahan manfaatnya.

Kami berlindung kepada Allah dari sifat yang demikian.

 

Bid. SDM

About Abu Muhtaramun 55 Articles
Tidak ada yang perlu diceritakan tentang siapa 'ABU MUHTARAMUN'. Karena ia bukan siapa siapa dan tidak menentang siapa pun juga. Jadi ia tidak perlu ditentang apalagi ditantang. Karena setiap Pertentangan berakibat pada Perselisihan dan berakhir pada Penantangan...? Cukup berkenalan saja. Karena Kenal itu perlu dan menjadi Terkenal itu penting. Makin terkenal makin banyak Kepentingan yang sebenarnya nggak penting penting sekali, mungkin dua-tiga kali bahkan berkali kali. Maafkan.

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*