Kisah Futuhat Kedua Alexandria di Masa Khalifah Utsman bin Affan

Iskandariyah atau Alexandria merupakan kota yang terkenal di zaman kuno. Kota pelabuhan terbesar di Laut Mediterania (Laut Tengah) ini pernah menjadi bagian kekuasaan imperium-imperium besar di masa lalu, dari Mesir Kuno di bawah para Fir’aun, Persia, Macedonia-Yunani pimpinan Kaisar Iskandar Dzulkarnain atau Alexander the Great, Mesir Kuno Ptolomeus, hingga Romawi. Semua imperium tersebut sempat menikmati kekuasaannya di kota pelabuhan strategis ini sebelum menjadi bagian dari wilayah Kekhalifahan Islam.

Kota ini merupakan kota pelabuhan yang banyak transaksi perdagangannya. Kota ini sangat penting untuk mempertahankan kontrol kekaisaran Byzantium. Kultur peradabannya adalah Mesir-Helenis, yakni sangat dipengaruhi oleh Yunani. Pandangan agama serta budayanya juga sangat mirip dengan Byzantium, kendati sekte agama Kristen dan bahasanya berbeda. Mesir beragama Kristen Koptik dan masyarakatnya berbahasa Koptik, bukan latin atau pun Yunani (Khalil Semaan, Islam and the Medieval West, Albany, NY: State University of New York Press, 1980). Tidak banyak generasi Muslim saat ini yang mengetahui, bahwa Iskandariyah atau Alexandria ditaklukan sebanyak dua kali oleh Kekhalifahan Islam, yang pertama kali di masa Khalifah Umar bin Khaththab RA tahun 21 H (Hijriyah), yang kedua di masa Khalifah Utsman bin Affan RA, tepatnya di tahun 25 H.

Sebelumnya, saat Penaklukan Alexandria pertama tahun 21 H, di bawah pimpinan Panglima Besar Amr bin Ash RA, Alexandria menjadi satu-satunya bagian negeri Mesir yang penduduknya agak sulit menerima Islam karena agama dan kebudayaan Romawi begitu mengakar di kota sebelah utara Mesir itu. Lagi pula penduduk kota ini agak diistimewakan oleh Byzantium lantaran menjadi pusat produksi gandum dan bahan makanan lainnya. Selain itu pasukan ini pemasok tentara angkatan laut yang tangguh serta prajurit garnisun demi menjaga keutuhan kekaisaran Romawi Timur tersebut (Phillip K. Hitti, Capital Cities of Arab Islam, Minneapolis: Jones Press, 1973, h. 110). Alexandria memang sangat istimewa di mata Byzantium. Itu sebabnya kendati Alexandria sudah membayar jizyah sebagai tanda perdamaian dan keloyalan kepada Kekhalifahan Islam yang berpusat di Madinah, baru saja memasuki tahun keempat pasca difutuhat oleh Amr bin Ash, penduduk Alexandria mengkhianati perjanjiannya dengan pemerintahan Islam.

Kota Alexandria merupakan basis militer Byzantium terpenting di benua Afrika. Di sinilah pusat kekuatan maritim dan garnisun Romawi Bizantium, yang mana jika kota ini direbut maka kekuatan Romawi dijamin akan menurun drastis kekuatannya, bukan hanya di Afrika tetapi juga di seluruh kawasan Laut Mediterania. Sejarawan Ibnul Atsir mengisahkan dalam kitabnya Al-Kamil Fii Tarikh bahwa tepat tahun 25 H penduduk Iskandariyah melanggar perjanjian damainya dengan Kekhalifahan Islam. Bukan saja enggan membayar jizyah yang menjadi tanda perdamaian dan perlindungan di bawah naungan Khilafah, tetapi sudah sampai taraf mengkhianati. Penduduknya berencana memerangi pemerintahan Islam di Mesir.

Awalnya orang-orang Romawi berpikir kaum Muslimin tidak akan mampu menaklukan Iskandariyah jika kekuasaan atas kota pelabuhan tersebut diraih kembali. Pihak Romawi menduga kaum Muslimin sedang kekurangan personil dalam militer dan jihad karena di masa Khalifah Utsman kekuasaan umat Islam semakin meluas serta banyak terjadi penaklukan di berbagai wilayah. Otomatis basis kekuatan di Mesir dinilai tidak lagi sekuat di masa Khalifah Umar. Saat itulah, Romawi Byzantium di pusat imperiumnya, Konstantinopel (Islambul atau Istanbul Turki saat ini), mengirim surat kepada penduduk Alexandria yang berisi seruan agar mencabut perjanjian damai dengan Kekhalifahan Islam.

Penduduk Alexandria menuruti keinginan Romawi Byzantium, apalagi pada saat itu panglima perang Romawi Manwil (Manuel) Al-Khasi sedang berada dalam perjalanan menuju Iskandariyah dengan 300 kapal untuk mengembalikan kedaulatan Romawi di Alexandria. Sebagai loyalis Romawi, sebagian penduduk Alexandria menyambut gembira akan datangnya kekuatan penuh dari Konstantinopel. Pasukan Manwil Al-Khasi pun disambut sukacita oleh penduduk Alexandria. Maka benturan kembali pasukan Islam dengan Romawi di Alexandria menjadi sesuatu yang niscaya.

Jalannya Peperangan Futuhat Alexandria ke-II 25 H

Sebagai loyalis Romawi, sebagian penduduk Alexandria menyambut gembira akan datangnya kekuatan penuh dari Konstantinopel. Pasukan Manwil Al-Khasi pun disambut sukacita oleh penduduk Alexandria.

Raja Muqauqis penguasa Alexandria-Mesir saat itu, amat paham kekuatan Kekhalifahan Islam dan punya itiqad baik untuk kembali memperbaiki hubungan dengan kaum Muslimin. Ia tahu Mesir hidup damai, adil dan sejahtera di bawah naungan pemerintahan Islam. Muqauqis sendiri hanya berkuasa di bagian Mesir yang membayar jizyah kepada Kekhalifahan, khususnya Alexandria. Ia sendiri pemimpin Koptik. Sebagian besar negeri Mesir sudah dipimpin oleh Wali Mesir (Gubernur) Abdullah bin Sa’d bin Abu As-Sarh, gubernur Mesir di bawah pemerintahan Khalifah Utsman. Dalam hal ini kehendak penduduk Alexandria berbeda dengan kehendak penguasa Muqauqis sendiri, rakyatnya ingin memerangi Islam tetapi rajanya yang dikenal bijaksana lebih memilih berdamai dengan Islam.

Gayung bersambut, provokasi Romawi dan kehendak masyarakat Alexandria akhirnya terealisasikan dengan memanasnya konflik Alexandria-Kekhalifahan Islam. Penduduk Alexandria sudah bertekad akan melawan pihak kaum Muslimin meskipun hal itu tidak disetujui pemimpinnya. Wilayah Mesir sebelum Islam berstatus sebagai negara satelit Romawi. Agama Muqauqis dan Romawi Bizantium meski sama-sama Kristen berbeda sektenya, perbedaan sekte tersebut sering menjadi konflik internal agama Kristen.

Pasukan Romawi di bawah Manwil mengadu kepada Konstantin, putra dari Heraclius (Kaisar Romawi di masa Rasulullah SAW hingga Umar) serta mendeskripsikan akan lemahnya kondisi pasukan kaum Muslimin. Tidak hanya meminta restu saja, penduduk Iskandariyah juga menuding diperlakukan dengan hina oleh pemerintahan Islam di Mesir, hal itu juga diadukan kepada Konstantin. Sebagaimana diterangkan tadi, Amr bin Ash saat itu sudah tidak lagi menjabat sebagai Wali atau Gubernur Mesir, tapi sudah digantikan Abdullah bin Sa’d.

Panglima Romawi, Manwil, tiba dengan 300 armada kapal lengkap dengan persenjataan dan logistiknya. Di lain pihak, penduduk Mesir mayoritas sudah masuk Islam, sebagian lainnya menjadi loyalis Kekhalifahan Islam meski bukan Muslim lantaran merasa diperlakukan dengan adil di bawah naungan Kekhalifahan. Penduduk Mesir akhirnya mengirim surat kepada Khalifah Utsman di Madinah agar kembali mengirim Panglima Besar Amr bin Ash untuk memimpin peperangan dengan Romawi. Penduduk Mesir tidak mau kembali menjadi bawahan Romawi yang dikenal kejam. Mereka juga sering diperlakukan tidak adil.

Khalifah Utsman pun menjawab surat dari penduduk Mesir, serta menyetujui untuk mengirim Amr bin Ash. Masyarakat Mesir menilai bahwa Amr bin Ash adalah orang yang tepat untuk menghadapi kekuatan penuh Romawi, ia dianggap sebagai orang paling tahu taktik bertempur Romawi. Amr juga amat disegani di Mesir.

Setelah pasukan Romawi Bizantium tiba di pelabuhan Alexandria dengan 300 kapal lengkap dengan persenjataan dan logistiknya. Pasukan Romawi mengobrak-abrik dan membantai para penduduk yang setia kepada Kekhalifahan Islam. Demikian yang dilakukan pasukan pimpinan Manwil Al-Khashi itu menyerang desa-desa yang dilaluinya, dari Alexandria hingga wilayah di sekitar kota pelabuhan tersebut.

Serangan Romawi dengan kekuatan perang penuh membuat mereka bisa mencapai kota Naqyus, jauh di sebelah Tenggara kota Alexandria. Di saat yang sama, Panglima Perang Islam Amr bin Ash RA, sahabat Rasulullah SAW yang sangat cerdik, jenius dan ahli militer ini sudah tiba di Mesir dengan pasukan kaum Muslimin yang siap berjihad. Amr bin Ash menjadi harapan rakyat Mesir karena terkenal akan keahliannya dalam taktik dan strategi perang. Di sisi lain, mayoritas rakyat Mesir juga sudah kapok dijajah Romawi selama berabad-abad, pemerintahan Kaisar Romawi dinilai sama sekali tidak bisa adil terhadap rakyat Mesir. Meskipun dahulunya mayoritas rakyat Mesir beragama Kristen, agama yang sama dengan Romawi Bizantium, namun rakyat Mesir sering dianggap warga negara kelas dua atau warga “jajahan” karena memang bukan bangsa Romawi.

Perang pasukan Amr bin Ash dan pasukan Romawi pecah di kota Naqyus serta menjadi perang terdahsyat yang pernah ada antara Romawi dengan Islam. Pertempuran pun berlangsung sengit dan lama. Melihat kerasnya peperangan dan banyaknya jumlah pasukan Romawi, Panglima Amr bin Ash maju menerobos pasukan kaveleri Romawi dengan gagah berani. Sabetan pedang dari sahabat Rasulullah SAW yang masuk Islam berbarengan dengan Khalid bin Walid ini membuat kepala-kepala pasukan Romawi bergelimpangan di sana-sini. Singkatnya, sang panglima besar pasukan justru menerobos sendirian ke kumpulan kaveleri Romawi. Melihat begitu kehebatan Amr, ada pasukan Romawi yang mengincar kuda Amr agar ia jatuh dari kendaraannya. Kuda Amr pun tertancap panah seorang pasukan Romawi dan mati. Akhirnya Amr yang kehilangan kudanya berperang dengan berlari ke sana-sini menerjang musuh serta bergabung bersama pasukan infanteri. Amr adalah teladan bagi panglima militer, ia sangat merindukan syahid.

Keberanian panglima Amr lantas menyemangati pasukan Muslim untuk semakin gigih menerjang pasukan Romawi, mereka menyerang pasukan Romawi bagai singa-singa lapar. Di sini keteladanan panglima perang sangat berpengaruh bagi spirit perang para pasukan. Dambaan mendapat kemenangan dan mati syahid membuncah di jiwa mujahid-mujahid Islam yang terlibat peperangan, hingga membuat mereka menyerang Romawi tanpa rasa takut, terjangan pasukan Islam ke barisan pasukan Romawi ibarat gelombang raksasa. Pada akhirnya membuat ciut nyali pasukan Romawi dan merasa tidak sanggup melanjutkan pertempuran keras tersebut.

Para prajurit Romawi pun kabur dan lari terbirit-birit, banyak juga dari mereka yang tertebas serangan pasukan Islam di bawah komando Amr. Pihak Romawi yang tersisa pun lari ke Alexandria serta berlindung di benteng-bentengnya yang terkenal kokoh. Spirit perang pasukan Romawi yang dikenal brutal dan pemberani pun dihancurkan begitu saja oleh pendamba-pendamba syahid di jalan Allah. Banyak dari pasukan Romawi berpikir bahwa jika pasukan Muslim itu tiba di Alexandria tak ada lagi yang bisa mereka lakukan.

Setelah peperangan dahsyat itu, penduduk Mesir di sekitar Naqyus hingga Alexandria keluar dari perlindungannya. Mereka berlindung selama peperangan berkecamuk. Mendengar kabar kemenangan Islam, mereka amat bersuka cita. Mereka membantu pasukan Islam untuk memperbaiki jalanan dan jembatan di wilayah Mesir yang dirusak oleh pasukan Romawi. Bagi penduduk Mesir, pasukan Romawi dikenal suka merampas serta menjarah harta mereka.

Pasukan Amr yang mengejar pasukan Romawi di Alexandria mengepung kota legendaris tersebut sambil melontarkan manjaniq (Meriam kuno) serta mengumandangkan takbir. Batu-batu kuat raksasa dilontarkan dari manjaniq membuat lemah pasukan musuh baik fisik maupun mental, lantaran daya hancurnya yang lebih besar dari senjata pelontar lainnya. Selain itu benteng-benteng Alexandria pun semakin lemah dan keropos karena diterjang bertubi-tubi oleh batu raksasa. Tidak berapa lama, akhirnya pasukan Islam berhasil menerobos masuk pintu gerbang benteng Alexandria, pasukan Islam pun bagai air bah yang menyambar pasukan-pasukan Romawi. Setelah masuknya ribuan pasukan Islam, pasukan Romawi benar-benar tidak bisa memberi perlawanan lagi serta jadi sasaran empuk prajurit-prajurit Islam.

Mujahid-mujahid Islam menebaskan pedangnya ke sana-sini sehingga pasukan Romawi banyak yang terbunuh, termasuk Panglima Manwil Al-Khashi. Tentu saja setelah panglimanya terbunuh sudah tidak ada lagi perlawanan, yang ada hanya pelarian sisa-sisa pasukan Romawi yang jumlahnya jauh lebih sedikit dibanding pasukan yang kabur di Naqyus. Laut pun jadi harapan pelarian pasukan Romawi yang tersisa, mereka hanya berbekal pakaian tempur dan sisa-sisa senjata di samping berbekal rasa takut mati. Porak-porandanya kekuatan Romawi sangat jelas terlihat di pertempuran Alexandria, pasukan Romawi pun mati bergelimpangan, sisanya kabur terbirit-birit ke laut, sebagian lainnya banyak yang ditawan pasukan Amr. Barang-barang logistik, senjata dan kapal Romawi pun jadi ghanimah besar bagi kaum Muslimin.

Untuk menandakan peperangan yang dahsyat itu, Amr bin Ash mendirikan Masjid Rahmah tepat di wilayah kecamuknya perang di kota Alexandria. Setelah kemenangan gemilang pasukan Islam, uskup kota Alexandria, Uskup Benjamin yang beragama Kristen Koptik meminta Amr agar melindungi kaum Koptik di wilayah Mesir, pihaknya pun kembali membayar jizyah kepada Kekhalifahan Islam. Menurutnya, kaum Koptik tidak pernah melanggar perjanjian kecuali mereka yang memang loyalis Byzantium. Uniknya, Uskup Benjamin meminta agar kaum Muslimin tidak berdamai dengan Romawi Bizantium, ia memohon agar kaum Muslimin meneruskan peperangan terhadap kekaisaran yang dikenal zhalim itu, sehingga kekaisaran Konstantinus tersebut benar-benar dapat diruntuhkan.

PENULIS : Ilham Martasyabana, penggiat Sirah Nabawiyah

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *