Jubah Untuk Heraclius

Tidak, anda tidak sedang salah membaca. Heraclius memang pernah mengirimkan utusan kepada sayyidul mursalin. Waktu Rasulullah untuk kedua kalinya mengirimkan Dihyah ke istana Heraclius saat berada di Tabuk.

Jika surat pertama Rasulullah ke Heraclius melalui sahabat Dihyah bin Khalifah Al-Kalbi telah populer kisahnya, di mana ketika itu Heraclius langsung mengintrogasi Abu Sufyan bin Harb. Abu Sufyan yang di masa perjanjian Hudaibiyah (tahun 7 H) belum masuk Islam, ia hanya berstatus pimpinan kafilah dagang Quraisy ke negeri Syam, kabar tentang kenabian Muhammad SAW dijelaskan semua olehnya kepada Kaisar Heraclius. Jika kisah masyhur ini yang dimaksud, semua telah tertuang dalam kitab Shahih Al-Bukhari, Shahih Muslim, Tarikh Al-Mulk wa Rusul Ath-Thabri, dan Thabaqat Al-Kubra Ibnu Sa’ad. Tetapi bukan yang ini, yang saya maksud adalah kisah yang hanya diriwayatkan dalam Musnad Ahmad bin Hanbal, saat Heraclius mengirim pesan kepada Rasulullah melalui utusannya.

Riwayat dari Musnad Ahmad ini memang tidak sekuat riwayat kisah dialog Heraclius dan Abu Sufyan yang berstatus shahih. Uniknya, Ahmad bin Hanbal meriwayatkannya secara menyendiri, namun haditsnya berstatus gharib (menyendiri), sedangkan sanadnya tidak bermasalah, bisa diterima, demikian penilaian Ibnu Katsir dalam kitab Al-Bidayah wa An-Nihayah dalam sub-Bab Kedatangan Delegasi Kaisar kepada Rasulullah di Tabuk.

Ahmad bin Hanbal meriwayatkan dari Sa’id bin Abu Rasyid, aku bertemu seorang dari At-Tanukh, yang dahulu menjadi delegasi Heraclius ke Rasulullah saat rombongan kaum Muslimin berada di Tabuk, bulan Rajab tahun 9 H. Singkat cerita, Sa’id meminta diceritakan pertemuan lelaki At-Tanukh dengan Rasulullah, yang saat itu ia berstatus sebagai utusan Heraclius.

Awalnya Rasulullah bersama 30 ribu kaum Muslimin di Tabuk, mengirimkan kembali Dihyah bin Khalifah Al-Kalbi sebagai utusan untuk kembali mengajak Heraclius masuk Islam. Berbeda dengan yang terjadi pada dua tahun sebelumnya, saat Dihyah pertama kalinya menjadi utusan Muslim ke Heraclius, kali ini Rasulullah mengirim pesan bukan sekedar: masuk Islam atau memilih menanggung dosa rakyat se-Romawi karena menolak Islam, namun lebih dari itu.

Berikut kesaksian Heraclius saat mengadukan pesan kenabian ke para pendeta dan pembesar Romawi, “Lelaki ini telah datang sebagaimana yang kalian lihat, ia diutus kepadaku dan menyeruku atas tiga perkara: menyeruku agar mengikuti agamanya (Islam), memberikan kepadaya harta hasil bumi kita sekaligus wilayah kita (jizyah), atau kita akan ditemuinya di medan perang (diperangi).”

Tentu saja surat dari Dihyah ini membuat panik semua pembesar Romawi, yang kemudian menjadikan mereka harus ‘rapat darurat’, dari sisi Islam inilah ‘izzah Islam, tidak gentar dihadapan negara terkuat di muka bumi, malah negara adidayanya yang gentar.

“Demi Allah” lanjut Heraclius, “Aku telah mengenal kalian (para pendeta) dengan seluruh yang kalian baca dari kitab-kitab itu (Injil), ia benar-benar akan mengambil apa yang berada di bawah kakiku (kekuasaan), Segera putuskan! Kita akan mengikuti agamanya (Islam) atau memberikan harta hasil bumi kita (Jizyah)?” simaklah, ucapan ini keluar dari mulut kaisar terkuat di muka bumi pada masanya.

Para pendeta tersebut mengadakan sidang dengan burnus-burnusnya, semacam jubah panjang dan bertopi. Mungkin sekali pakaian khas kekristenan. Mereka pun mengambil sebuah keputusan dan berkata kepada Heraclius, “Engkau menghendaki kami agar memantau orang-orang Nasrani atau malah menghendaki kami menjadi hamba bagi orang Arab yang berasal dari Hijaz?” pertanyaan para pendeta tersebut membuat Heraclius ketakutan. Kaisar Romawi itu menyangka ia berada dalam bahaya besar jika para pendeta tidak lagi mendukungnya lalu mengobarkan pemberontakan dikarenakan ia menerima Islam atau tunduk dengan membayar jizyah.

Heraclius kembali menenangkan para pendeta seraya berkata, “Aku berkata begitu karena aku tahu akan keteguhan kalian terhadap urusan agama kalian.”

Heraclius pun berinisiatif menulis surat pribadi kepada Rasulullah, “Panggilkan untuk ku seorang yang hafal tentang kabar (kenabian) ini, dan juga yang mahir berbahasa Arab, akan aku utus dia bersama dengan lelaki ini (Dihyah) untuk menjawab pesan Muhammad.” Maka lelaki dari At-Tanukh tersebut yang dipanggil, dari kabilah Tujib yang merupakan bagian dari Bani Kindah.

Lelaki dari At-Tanukh meneruskan kisahnya kepada Sa’id bin Abu Rasyid, Heraclius menyodorkan suratnya kepada lelaki dari At-Tanukh. “Pergilah engkau dengan membawa suratku kepada beliau (Rasulullah), janganlah engkau mengindahkan kata-katanya (maksudnya: sebelum memastikan kenabian Muhammad SAW) dan telitilah tiga hal untuk ku:

(1) Amatilah apakah beliau menyebutkan tentang lembaran surat yang beliau tuliskan kepadaku, (2) Amatilah apakah beliau membaca suratku itu dengan mengingat yang ada hubungannya dengan malam hari, (3) Amatilah punggung beliau apakah terdapat suatu tanda yang meragukanmu.”

Di sini terdapat beberapa hikmah dan pelajaran.

Pertama, nampaknya surat itu bukanlah surat resmi yang diketahui para pembesar dan pendeta Romawi Byzantium, jika tahu isi suratnya semacam itu baik pembesar maupun pendeta Byzantium bisa-bisa memberontak terhadap kaisarnya. Surat ini dipastikan surat pribadi Kaisar Heraclius untuk memastikan kenabian Muhammad dari Hijaz.

Kedua, Heraclius mengirim surat rahasianya dengan memberi pesan tantangan untuk membuktikan kenabian Rasulullah. Rasulullah diharuskan memenuhi tiga kriteria dari pesannya, harus berbicara tentang lembaran surat beliau kepada utusan Heraclius, harus mengaitkan dengan malam hari saat membaca surat dari kaisar, dan harus dipastikan bahwa di punggung Rasulullah terdapat tanda kenabian. Hal terakhir ini juga yang dahulu dilakukan oleh sahabat Salman Al-Farisi sebelum masuk Islam karena di punggung Nabi ada suatu ‘cap’ atau tanda kenabian. Ketiga, kaisar Romawi terbukti sudah terbesit dalam hatinya rasa tertarik dengan Islam hanya saja ia lebih cinta mengamankan kedudukan dan kekuasaannya ketimbang menerima hidayah.

Sebagaimana testimoni Rasulullah saat mendapat surat balasan Heraclius di tahun 7 H, waktu Dihyah bin Khalifah Al-Kalbi diutus ke Heraclius untuk pertama kali dan Heraclius mendapat kabar tentang Rasulullah dari Abu Sufyan bin Harb. Dikisahkan dalam Shahih Muslim, Heraclius pun membalas surat dari Rasulullah, “Sesungguhnya aku telah masuk Islam,” kaisar Romawi Byzantium itu pun memberikan hadiah kepada Rasulullah beberapa dinar, demikian riwayat Muslim menjelaskan. Tentu bukan masalah nominal uangnya, di zaman itu uang dinar bergambar Heraclius merupakan simbol penghargaan kaisar. Sisa-sisa uang di zaman itu masih bisa kita jumpai bentuknya.

Setelah mendengar kisah perjalanan Dihyah, Rasulullah bersabda, “Musuh Allah itu dusta, dia masih beragama Nasrani”, lalu beliau membagi-bagikan uang pemberian Heraclius kepada kaum Muslimin. Imam Nawawi menjelaskan dalam Syarh Shahih Muslim, kitab Al-Jihad, “Keengganan Heraclius masuk Islam merupakan pertanda bahwa ia masih haus tahta dan kekuasaan, serta lebih mementingkan keduanya daripada Islam. Padahal, seandainya ia masuk Islam seperti Najasyi Habasyah, belum tentu Heraclius kehilangan tahta dan kekuasaannya.” Heraclius hanya ketakutan dengan bayangannya sendiri kalau-kalau terjadi pemberontakan terhadap dirinya jika ia menerima Islam, nampak sekali ia tidak secerdas Najasyi.

Kembali kepada kisah lelaki dari At-Tanukh dalam Musnad Ahmad di tahun 9 H. Saat ia dan Dihyah telah sampai ke Tabuk dan menghadap Rasulullah. Rasulullah sedang duduk di antara sahabat-sahabatnya dengan beramah-tamah, aku pun bertanya, “Manakah kawan kalian?” (maksudnya Rasulullah), “Inilah orangnya” jawab para sahabat. Utusan Heraclius pun membuka dialognya saat sudah duduk di hadapan Nabi dan menyerahkan surat yang ia bawa.

Rasulullah meletakkan surat dari Heraclius pada kudanya,
“Berasal dari manakah engkau ini?” tanya baginda Nabi, “Aku adalah saudara dari Tanukh.” Lalu Nabi menawarkan Islam kepada lelaki dari At-Tanukh ini, “Apakah engkau mau menerima Islam yang hanf sebagaimana keyakinan nenek moyangmu Ibrahim?” demikian tawaran Nabi.

Sayyidul Mursalin Muhammad Rasulullah memperlihatkan kelasnya dengan ungkapan jawami’ al-kalim, berbicara singkat namun padat bermakna. Kita akan melihatnya dari beberapa sisi.

Pertama, beliau begitu tahu bahwa utusan Heraclius ini bangsa Arab pula, langsung menawarkan Islam sebagai kewajiban utama beliau, paling tidak jika Heraclius menolak Islam, utusannya telah menerima Islam.

Kedua, bangsa Arab adalah orang yang sangat menghormati bahkan mensakralkan nenek moyang, disebutlah nenek moyang mereka Rasul Allah Ibrahim. Seraya Nabi SAW mengingatkan kalau Ibrahim merupakan beragama Islam yang hanif, kata hanif lekat dengan karakter agama Ibrahim. Soalnya, keyakinan musyrik dan jahiliyah pun mengaku-ngaku tradisi Nabi Ibrahim juga, kendati telah tercemar kesyirikan yang parah. Nabi menawarkan Islam dengan menyebut “Islami al-hanifiyyah” kepada utusan Heraclius, agar teringat agama Ibrahim adalah agama yang menyembah hanya satu Tuhan yang tiada Ilah lain selainNya.

Ketiga, memperlihatkan kemampuan sempurna wawasan Nabi terhadap psikis dan kultur lawan bicara ketika berkomunikasi untuk menawarkan agama Islam.

Lelaki dari At-Tanukh menyahut, “Sesungguhnya aku adalah seorang utusan suatu kaum dan berada pada agama kaum tersebut, aku tidak akan berpaling darinya hingga aku kembali kepada agama mereka.” Ia bersikeras tidak meninggalkan agamanya sampai ia melaporkan dahulu tugasnya kepada Heraclius. Oleh sebab itu Nabi menjawab dengan firman Allah:

“Sesungguhnya kau tidak akan dapat memberi memberi petunjuk kepada orang yang kamu kasihi, tetapi Allah memberi petunjuk kepada orang yang dikehendakiNya, dan Allah lebih mengetahui orang-orang yang mau menerima petunjuk.” (QS Al-Qashash: 56)

Rasulullah bersabda, “Wahai saudara dari Tanukh, sesungguhnya aku menulis sehelai surat pada Kisra namun ia merobeknya, dan Allah pun mengoyak dirinya serta kerajaannya. Aku juga menulis surat kepada kepada Najasyi namun ia membakarnya, dan Allah membakar dirinya beserta kerajaannya. Lalu aku tulis surat kepada sahabatmu kemudian ia menjaganya, maka tidaklah rakyatnya memperoleh ketakutan dan kekhwatiran selama ia (Heraclius) hidup dalam kebaikan.”

Lelaki dari At-Tanukh pun kaget. Pesan Nabi barusan berkaitan dengan perihal surat Nabi yang diperoleh Kaisar Heraclius. Maka ini nubuwwat pertama untuk sang utusan juga untuk sang kaisar. Ini membuktikan pesan pertama Heraclius pada utusannya tentang kenabian Muhammad SAW benar-benar terjadi. “Ini adalah salah satu dari tiga hal yang ia wasiatkan kepadaku,” ujar sang utusan kepada dirinya sendiri.

Mutiara apa yang bisa kita ambil dari dialog di atas?

Pertama, pada dasarnya dakwah Rasulullah ini merupakan kehendak Allah untuk menyampaikan risalahNya. Dari dialog di atas kita akan mendapatkan pelajaran, siapa saja raja-raja di dunia yang tidak sedikit pun mengindahkan risalah dari Maha Raja, maka raja-raja itu akan dikoyak kerajaannya. Akan tetapi lantaran Heraclius ‘lebih mending’ ketimbang raja-raja dunia lain dalam memperlakukan surat Rasulullah, bisa jadi balasannya adalah kerajaannya bertahan lebih lama. Ia dianugerahi kekaisaran yang lebih lama oleh Yang Maha Raja kendati menolak Islam.

Kedua, Rasulullah memperlihatkan bahwa dakwah Islam bukanlah paksaan, di samping beliau ada 30 ribu pasukan yang siap melaksanakan komando beliau kapan saja, namun beliau tetap ramah dengan utusan kekaisaran kristen ini. Bahkan tidak berkata kasar sedikit pun kepadanya.

Lelaki dari At-Tanukh itu pun mengambil anak panah dari tempatnya, lalu menuliskan pesan Rasulullah tadi di sarung pedangnya. Rasulullah menyerahkan sebuah lembaran kepada Muawiyah bin Abi Sufyan, sekretaris Nabi yang berada di sisi Nabi saat dialog tersebut.

Lalu lanjutan surat Heraclius, “Engkau (Rasulullah) menyeruku (Heraclius) mengajaku kepada surga yang luasnya bagaikan seluas langit dan bumi, yang disediakan untuk orang-orang bertaqwa, maka di manakah neraka itu?” pesan Heraclius melalui suratnya. “Subhanallah! Ke manakah malam apabila siang telah datang?” jawab Rasulullah.
Lagi-lagi, terkejutlah lelaki dari At-Tanukh itu. Ia ingat pesan Heraclius pada dirinya bahwa saat menjawab pesan dari Heraclius, apakah sang Nabi akan menjawab dengan sesuatu yang berhubungan dengan malam hari. Lagi-lagi nubuwwat Rasulullah. Seakan menjawab ‘tantangan’ Heraclius, seolah menebak apa yang ada di pikiran Heraclius. Padahal Heraclius hanya memberi tahu hal itu kepada utusannya. Lagi-lagi utusan tersebut menuliskan jawaban dari surat di sarung pedangnya, dengan anak panahnya sebagai pena.

Maka setelah selesai membaca surat, Rasulullah bersabda “Sesungguhnya engkau memiliki kebenaran, dan engkau merupakan seorang utusan, jika sekiranya aku mendapati bahwa kami memiliki hadiah maka akan kami berikan kepadamu hadiah, sayangnya sungguh kami adalah pengembara yang harus mengatur perbekalan.”

Telah maklum bahwa pasukan Muslim ke Tabuk dijuluk Jaysul ‘Usrah (pasukan yang kesulitan, yang bersusah-payah). Tapi Utsman bin Affan yang jua menyaksikan pembicaraan itu menyanggupi, “Aku akan memberikannya hadiah” saat itu Utsman sedang membawa pakaian jubah khas Shafuriyah, sebuah wilayah di Jordania, Syam. Utsman hendak memberi sang utusan berupa jubah. Lantas sang utusan berkata, “Siapa yang punya hadiah itu?” para sahabat Nabi berkata, “Utsman.” Rasulullah sebagai pimpinan perang sangat menghormati utusan tersebut, maka beliau bertanya kepada para sahabat, “Siapa di antara kalian yang akan menampung sementara lelaki ini?”, maka seorang pemuda Anshar menjawab “Aku, wahai Rasulullah” Maka lelaki dari At-Tanukh ini dijamu dan dilayani oleh sahabat dari Anshar.

Saat Nabi SAW memanggil tamunya kembali, sang utusan dengan terburu-buru datang ke hadapan baginda Nabi, alangkah terkejutnya ia mendapati Nabi melepaskan burdah beliau untuk diperlihatkan tanda kenabian di bagian punggung beliau. “Inilah, berangkatlah terhadap berita yang engkau diperintahkan untuk menyampaikannya.” Ternyata Rasulullah tahu bahwa Heraclius menyuruhnya untuk memeriksa punggung beliau, ini juga salah satu nubuwwah Nabi kesekian kalinya. Sang utusan melihat dengan takjub tanda kenabian di bawah pundak beliau yang mulia.

Analisa Tindakan Politis Heraclius

Dari kisah ini terdapat ‘ibrah yang sebagian telah dibahas. Tidak boleh dilupakan bahwa kisah ini sarat dengan taktik politis Romawi. Ini kedua kalinya Rasulullah mengutus delegasi ke Heraclius. Kali ini pun Heraclius membalas surat baginda Rasul melalui orang Arab Nasrani yang menjadi agama yang umum ditemui di utara Jazirah Arab dan Syam pada masanya. Menarik menyimak bahwa Heraclius sama sekali tidak menjawab surat Rasulullah yang berisi tiga hal, masuk Islam, membayar jizyah atau diperangi oleh kaum Muslimin. Surat balasan Heraclius seakan tidak lantas menjawab ajakan Nabi. Bagaimana memahaminya? Heraclius sebenarnya sudah tahu akan kenabian Rasululah sejak pengutusan Dihyah yang pertama, Abu Sufyan telah menjelaskan kenabian beliau dan riwayat shahih menyatakan bahwa Heraclius percaya berita kenabian ‘Muhammad dari Hijaz.’ Dengan kata lain pengutusan ini merupakan hanya untuk menambah keyakinan sang kaisar, terutama membuktikan cap kenabian yang bagi Nasrani maupun Yahudi, nabi dan rasul penutup harus memiliki cap (tanda) kenabian. Itu terbukti di tubuh Nabi Muhammad.

Tidak hanya itu kaisar jelas memiliki taktik politis saat mengirim lelaki dari At-Tanukh ini ke Tabuk menemui kaum Muslimin. Heraclius dalam pesannya hanya bertanya yang seakan menguji Nabi dengan tiga hal: apakah beliau menyebut sesuatu yang berhubungan dengan surat beliau ke Heraclius, di mana neraka saat ada surga yang luasnya bak seluas langit dan bumi, serta ‘ngetest’ cap kenabian di punggung Nabi. Heraclius mengambil hati Nabi dengan seni dialog membangun hubungan melalui utusannya. Ia tahu benar kekuatan umat Islam, terlebih ia cenderung meyakini bahwa pimpinan tentara Arab ini seorang Nabi. Ia menyadari kedudukannya sebagai kaisar Romawi, maka ia berusaha mempengaruhi Nabi dan kaum Muslimin, ia juga harus terkesan mengakui kenabian Rasulullah serta bersikap lunak, tentu tindakan politis ini dilakukan secara halus. Apalagi surat dari Nabi sebenarnya berisi: hanya ada 3 pilihan bagi Heraclius, dan jawaban Heraclius melalui utusannya terbaca sebagai: memastikan kenabian.

Apalagi pada tahun 7 H, melalui pengutusan Dihyah, Heraclius dengan suratnya mengaku bahwa ia telah masuk Islam diam-diam yang langsung dinilai tegas oleh Rasulullah, “Musuh Allah ini telah berdusta.” Maka pengutusan delegasi Heraclius ke Tabuk ini lebih bernuansa politis.

(1) Dengan tujuan menyurutkan tekad kaum Muslimin memerangi Romawi, Heraclius berbuat seakan memberi penghargaan kepada Rasulullah. Awalnya ia memberi koin emas di pengutusan Dihyah yang pertama (HR Ibnu Hibban), dan kali ini dua tahun kemudian di Tabuk, Heraclius seakan menegaskan bahwa ia sedang mencari bukti kenabian Rasulullah sebagai jalan menuju keislaman, kendati faktanya hanya menguji belaka. Heraclius seumur hidupnya tidak masuk Islam, padahal ia masih hidup bertahun-tahun pasca wafatnya Nabi. Ia pun hidup sambil meratapi direbutnya tanah Syam oleh kaum Muslimin dari istana Konstantinopel.

(2) Harapan agar kaum Muslimin mengurungkan atau setidaknya menunda tekadnya memerangi kekaisaran Byzantium. Tindakan politisnya bisa dibaca sebagai menyesuaikan opininya dengan kaum Muslimin di Tabuk. Tujuan utama pesan-pesan surat Nabi adalah agar Heraclius masuk Islam, dan yang dilakukan sang utusan Heraclius adalah mengecek kenabian Muhammad, agar terkesan sedang “berproses menerima hidayah”. Heraclius sengaja menyesuikan tindakannya dengan opini dan harapan kaum Muslimin. Tentu keletihan kekaisaran Romawi pasca rentetan perang dengan kekaisaran Persia sangat mempengaruhi tindakan politisnya ini. Apalagi secara pribadi sang kaisar mengakui bahwa lawannya kali ini adalah Nabi, yang bala tentaranya sangat mungkin lebih kuat dari pada Persia. Wallahu’alam.

PENULIS : Ilham Martasyabana, penggiat Sirah Nabawiyah.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *