IMAM DILARANG KENTUT…

Walau singkat, shalat berjama’ah telah  banyak dibahas secara jelas, akan tetapi lebih lengkap lagi bila kita mau memahami kandungan filosofis yang terdapat di dalam tata cara “Shalat berjama’ah” ini.

Ma’mum sudah memilih dan menetapkan imam sebagai pemimpin Shalat. Penetapan seseorang menjadi imam shalat hendaknya tidak asal-asalan. Ibarat naik kendaraan sang imam adalah pengemudi nya. Bila sang imam takbir maka ma’mum pun harus takbir, bila sang imam ruku’ maka ma’mum pun harus ruku’, bila sang imam salah dalam bacaan maka ma’mum boleh melakukan ‘Interupsi’ pada bacaan yang salah tersebut. Artinya sang imam boleh dikoreksi bila melakukan kesalahan bacaan.

Begitu pula halnya bila sang imam melakukan kesalahan dalam perbuatan dan gerakan shalat. Ma’mum diwajibkan untuk menegur imam apabila ia salah dalam gerakannya, misalnya harusnya sang Imam ruku’ tetapi ia sujud. Ma’mum harus menegur dengan membaca ‘Subhaanallaah’, maksudnya tegurlah kesalahan imam dengan menyebut kalimat Maha Suci bagi Allah sebagai suatu teguran yang baik. Bila sang imam mendengar kalimat ini dari ma’mum maka artinya ia telah melakukan kesalahan dan harus segera memperbaiki kesalahan tersebut.

Bagaimana bila sang imam batal shalatnya akibat buang gas (kentut), walau tidak terdengar, tidak berbau dan tidak tercium oleh ma’mum maka sang imam wajib bergeser ke kiri sebagai tanda telah batal kepemimpinan shalatnya. Ma’mum yang berada di belakang imam sebelah kanan harus maju menggantikan imam untuk meneruskan shalat berjamaah tersebut.

Ada kalanya sang imam batal shalatnya akibat kentut, bahkan terdengar dan tercium baunya oleh ma’mum tetapi sang imam tidak mau bergeser dari tempatnya. Sementara ma’mum yang berada di belakangnya tidak mau mengambil alih kepemimpinan shalat itu, maka… pertanyaannya adalah siapa diantara imam dan ma’mum yang paling bodoh dalam hal ini…???

Imam adalah pemimpin dalam shalat, ayah adalah pemimpin dalam satu rumah tangga, pak RT adalah pemimpin dalam kelompok rumah tangga, begitu pula halnya dengan pak RW, Lurah, Camat, Bupati, Gubernur, hingga Presiden.., bahkan Ustadz, Kyai, atau pemimpin lainnya, bila ia telah kentut apalagi suaranya terdengar bahkan baunya tercium oleh orang-orang yang berada di belakangnya, kemudian ia tidak mau mundur dan orang yang berada di belakangnya tidak mau maju untuk  menggantikannya, kiranya apa kemungkinan yang dapat terjadi…???

Demikianlah konsep-konsep kepemimpinan digambarkan dalam shalat berjamaah. Bahwa “Pemimpin itu dipilih berdasarkan kualitas yang dibutuhkan bukan karena ia memproklamirkan diri untuk menjadi pemimpin”. Yang memilih pun harus pula memiliki pengetahuan yang benar dalam kapasitasnya sebagai orang-orang yang dipimpin dan selalu siap sedia untuk melakukan regenerasi dan kaderisasi kepemimpinan.

Kentutnya  sang imam dalam shalat adalah akibat gas yang keluar dari perut karena sudah tidak dapat ditahan lagi. Kentutnya sang pemimpin dalam kehidupan sehari-hari adalah apabila ia telah melakukan kentut secara sosial dengan sengaja, maksudnya sang pemimpin melakukan kesalahan secara sengaja dalam kehidupan sosial dan masyarakat bahkan kentut tersebut dilakukan berulang-ulang, berbunyi nyaring dan berbau tidak sedap. Janganlah kita menjadi ma’mum dari pemimpin yang seperti ini.

 

Bid. SDM

 

 

About Abu Muhtaramun 54 Articles
Tidak ada yang perlu diceritakan tentang siapa 'ABU MUHTARAMUN'. Karena ia bukan siapa siapa dan tidak menentang siapa pun juga. Jadi ia tidak perlu ditentang apalagi ditantang. Karena setiap Pertentangan berakibat pada Perselisihan dan berakhir pada Penantangan...? Cukup berkenalan saja. Karena Kenal itu perlu dan menjadi Terkenal itu penting. Makin terkenal makin banyak Kepentingan yang sebenarnya nggak penting penting sekali, mungkin dua-tiga kali bahkan berkali kali. Maafkan.

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*