Dosa Biasa

Kisah dari sahabat saya Ust Abay Abu Hamzah dalam buku Badai Inspirasi, beliau menyampaikan “Hari itu matahari sedang terik. Saya bersepeda motor dari kampus menuju rumah. Sebagaimana orang yang sedang mengendarai sepeda motor, saya tidak hanya menatap lurus ke depan, tapi juga menatap kejadia-kejadian menarik di sisi kiri dan kanan”.

Salah satu rute yang harus saya lewati adalah sebuah tempat pembuangan akhir, lengkap dengan setumpuk sampah yang busuk dan anyir. Saat melewati mau tidak mau saya harus menahan nafas. Sebab, saya tidak mau membiarkan aroma busuk itu masuk ke saluran pernafasan. Begitulah, kita harus menutup diri dari kebusukan. Jangan biarkan kebusukan menyusupi hati kita perlahan-lahan.

Nah, jika saya yang sedang numpang lewat saja harus menahan nafas agar tidak mencium aroma busuk sampah-sampah itu, bagaimana dengan mereka yang sehari-harinya beraktifitas di sana?
Menakjubkan, mata saya terbelalak melihat ada yang sedang makan dengan lahapnya di atas tumpukan sampah tersebut. Ada pula yang tertidur dengan lelapnya, seolah aroma busuk itu tidak sedikitpun mengganggu mereka.

Bagaimana mereka bisa makan dan tidur di atas tumpukan sampah ? Jawaban paling gampang adalah sebab mereka terbiasa. Apakah sejak awal mereka terbiasa ? Tentu tidak. Pada permulaannya, tentu mereka juga merasa terganggu dengan bau yang memusingkan kepala itu.
Sehari, dua hari, seminggu, mungkin mereka masih ingin muntah setiap ada di sana. Namun setelah sebulan berlalu, setahun, bahkan bertahun-tahun mereka mencium arama busuk itu, lama kelamaan hidunh mereka terbiasa. Hingga akhirnya, bau yang pada awalnya menyiksa, dirasa bisa. Bahkan, bisa jadi mereka mulai menikmatinya. Ya, berawal dari perasaan terganggu saat pertama kali mencium araoma busuk itu, lama-lama menjadi biasa dan akhirnya malah bisa menikmatinya.
Hhh…Mungkin, begitu pula dengan perbuatan dosa. Rasulullah pernah bersabda, “Hukuman terberat bagi dosa yang dilakukan terus menerus adalah, buta hati.”

Awalnya, saat pertama kali melakukan sebuah dosa, kita diselimuti perasaan bersalah, gelisah, cemas dan takut. Rasanya, dosa itu demikian besar. Hingga kita merasa sulit bernapas karena beratnya memikul dosa. Lakukan lagi. Lagi. Lagi. Dan lagi. Rasa bersalah itu masih ada. Hanya saja, perlahan-lahan kadrnya berkurang. Dosa yang awalnya kita anggap sangat besar, perlahan-lahan kita menganggap dosa itu tidak lagi besar.

Lakukan lagi. Lagi. Dan lagi. Terus menerus, dosa itu kita ulangi. Maka perlahan namun pasti, perasaan bersalah kita akan semakin mengecil. Hingga akhirnya lenyap. Itulah puncaknya. Saat dosa kita ulagi terus-menerus, maka kita akan terbiasa. Dan pada akhirnya, kita tidak lagi menyadari bahwa yang kita lakukan adalah dosa. Bukan sekedar terbiasa dengan dosa, bisa jadi pada akhirnya, kita akan menikmatinya. Na’udzubillah.

Demikian indah tulisan ini semoga dapat kita ambil pelajaran agar kita segera bertaubat dari perbuatan dosa.

Abu Hurairah r.a. yang mengatakan bahwa Rasulullah Saw. pernah bersabda:

إِنَّ الْمُؤْمِنَ إِذَا أَذْنَبَ ذَنْبًا كَانَتْ نُكْتة سَوْدَاءُ فِي قَلْبِهِ فَإِنْ تَابَ ونزعَ وَاسْتَعْتَبَ صُقِلَ قَلْبُهُ، وَإِنْ زَادَ زَادَتْ حَتَّى تَعْلُوَ قَلْبَهُ، فَذَلِكَ الرَّانُ الَّذِي قَالَ اللَّهُ تَعَالَى: كَلا بَلْ رَانَ عَلَى قُلُوبِهِمْ مَا كَانُوا يَكْسِبُونَ

Sesungguhnya orang mukmin itu apabila berbuat suatu dosa, maka hal itu merupakan noktah hitam pada hatinya. Tetapi jika dia bertobat dan kapok serta menyesali, maka tersepuhlah hatinya (menjadi bersih kembali). Tetapi apabila dosanya bertambah, maka bertambah pulalah noktah hitam itu hingga (lama-kelamaan) menutupi hatinya, yang demikian itulah yang dimaksudkan dengan istilah ar-ran di dalam firman-Nya, “Sekali-kali tidak (demikian), sebenarnya apa yang selalu mereka usahakan itu menutupi mereka.” (Al-Muthaffifin: 14). (HR. at-Tirmidzi, an-Nasa’i. Ibnu Majah) – Sayyid Alwi

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*