DILARANG BERDEBAT (dalam masalah agama)

Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), debat artinya “pembahasan dan pertukaran pendapat mengenai suatu hal dengan saling memberi alasan untuk mempertahankan pendapat masing-masing.” Perdebatan artinya perbantahan. Kiranya, arti debat menurut KBBI tersebut dapat dipenggal menjadi dua: “Pembahasan dan Pertukaran pendapat mengenai suatu hal”, dan “untuk mempertahankan pendapat masing-masing.” Penggalan pertama, artinya mirip dengan Musyawarah. Penggalan kedua, artinya mirip dengan Perbantahan.

Masih menurut KBBI, bantah artinya pertengkaran. Membantah artinya melawan atau menentang atau menyerang perkataan orang lain. Bantahan artinya sangkalan. Perbantahan artinya pertengkaran mulut. Pertengkaran mulut terjadi lumrahnya karena masing-masing pihak tak mau kalah dari lawan bicaranya.

Dalam Islam, musyawarah untuk mencapai mufakat sangat dianjurkan. Allah berfirman:

…..وَشَاوِرْهُمْ فِي الْأَمْرِ…..

“Dan bermusyawarah lah dengan mereka dalam urusan itu.”              (QS Ali Imran, 159).

Dalam Islam perbantahan sangat tidak dianjurkan.

Allah berfirman:

الْحَجُّ أَشْهُرٌ مَعْلُومَاتٌ ۚ فَمَنْ فَرَضَ فِيهِنَّ الْحَجَّ فَلَا رَفَثَ وَلَا فُسُوقَ وَلَا جِدَالَ فِي الْحَجِّ ۗ وَمَا تَفْعَلُوا مِنْ خَيْرٍ يَعْلَمْهُ اللَّهُ ۗ وَتَزَوَّدُوا فَإِنَّ خَيْرَ الزَّادِ التَّقْوَىٰ ۚ وَاتَّقُونِ يَا أُولِي الْأَلْبَابِ

(Musim) haji adalah beberapa bulan yang dimaklumi, barangsiapa yang menetapkan niatnya dalam bulan itu akan mengerjakan haji, maka tidak boleh rafats (perkataan yang dapat menimbulkan berahi),  fusuq (berbuat fasik) dan Jidal (berbantah-bantahan) di dalam masa mengerjakan haji. Dan apa yang kamu kerjakan berupa kebaikan, niscaya Allah mengetahuinya. Berbekallah, dan sesungguhnya sebaik-baik bekal adalah takwa dan bertakwalah kepada-Ku hai orang-orang yang berakal.  (QS Al-Baqarah, 197).

Larangan perdebatan tidak sebatas dalam pelaksanaan (ibadah) haji, tetapi juga berlaku pada urusan lainnya. Bahkan, dalam urusan dakwah yang notabene untuk kebaikan orang-orang yang menjadi sasaran dakwah, perdebatan seyogianya tetap dihindari. Apabila tidak bisa dihindari, lakukanlah perdebatan itu dengan cara yang baik.

Allah berfirman:

ادْعُ إِلَىٰ سَبِيلِ رَبِّكَ بِالْحِكْمَةِ وَالْمَوْعِظَةِ الْحَسَنَةِ ۖ وَجَادِلْهُمْ بِالَّتِي هِيَ أَحْسَنُ ۚ إِنَّ رَبَّكَ هُوَ أَعْلَمُ بِمَنْ ضَلَّ عَنْ سَبِيلِهِ ۖ وَهُوَ أَعْلَمُ بِالْمُهْتَدِينَ

“Serulah (manusia) kepada jalan Tuhanmu dengan hikmah (perkataan yang tegas dan benar) dan pembelajaran yang baik, dan bantahlah mereka dengan cara yang baik.” (QS An-Nahl, 125).

Sungguh luar biasa. Bayangkan, menyeru kepada jalan Allah pun tidak perlu dipaksakan.

Allah berfirman:

لَآ إِكْرَاهَ فِى ٱلدِّينِ ۖ قَد تَّبَيَّنَ ٱلرُّشْدُ مِنَ ٱلْغَىِّ ۚ فَمَن يَكْفُرْ بِٱلطَّٰغُوتِ وَيُؤْمِنۢ بِٱللَّهِ فَقَدِ ٱسْتَمْسَكَ بِٱلْعُرْوَةِ ٱلْوُثْقَىٰ لَا ٱنفِصَامَ لَهَا ۗ وَٱللَّهُ سَمِيعٌ عَلِيمٌ

Tidak ada paksaan untuk (memasuki) agama (Islam); sesungguhnya telah jelas jalan yang benar daripada jalan yang sesat. Karena itu barangsiapa yang ingkar kepada Thaghut dan beriman kepada Allah, maka sesungguhnya ia telah berpegang kepada buhul tali yang amat kuat yang tidak akan putus. Dan Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.(QS Al-Baqarah, 256).

Dalam ayat lain, dijelaskan bahwa kebenaran yang hakiki itu datangnya dari Allah. Namun, manusia tidak perlu dipaksakan untuk mengimaninya.

Allah berfirman:

وَقُلِ الْحَقُّ مِنْ رَبِّكُمْ ۖ فَمَنْ شَاءَ فَلْيُؤْمِنْ وَمَنْ شَاءَ فَلْيَكْفُرْ

“Dan katakanlah, ‘Kebenaran itu datangnya dari Tuhanmu, maka barang si apa yang ingin (beriman) hendaklah dia beriman, dan barang siapa yang ingin (mengingkari) biarkanlah dia mengingkari’.” (QS Al-Kahfi, 29).

Dari Abu Umamah, Rasulullah SAW bersabda:

“Aku menjamin sebuah rumah di sekeliling surga bagi orang yang menghindari perdebatan sekali pun dia (yang) benar), (aku menjamin) sebuah rumah di bagian tengah surga bagi orang yang menghindari dusta sekali pun dia (hanya) bercanda, dan (aku menjamin) sebuah rumah di bagian atas surga bagi orang yang baik akhlaknya.” (HR Abu Dawud).

Kita seyogianya konsisten/istiqamah menghindari perdebatan. Terlebih, apabila topik yang diperdebatkan menyangkut hal-hal yang sepele atau remeh.

 

Bid. SDM

About Abu Muhtaramun 54 Articles
Tidak ada yang perlu diceritakan tentang siapa 'ABU MUHTARAMUN'. Karena ia bukan siapa siapa dan tidak menentang siapa pun juga. Jadi ia tidak perlu ditentang apalagi ditantang. Karena setiap Pertentangan berakibat pada Perselisihan dan berakhir pada Penantangan...? Cukup berkenalan saja. Karena Kenal itu perlu dan menjadi Terkenal itu penting. Makin terkenal makin banyak Kepentingan yang sebenarnya nggak penting penting sekali, mungkin dua-tiga kali bahkan berkali kali. Maafkan.

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*