ANTARA PINTAR DAN BENAR

Sebagian besar manusia di dunia lebih suka dinilai Pintar daripada dinilai Benar. Pintar milik beberapa orang, sedangkan Benar milik semua orang. Karena Pintar berdimensi pikir, sedangkan Benar berdimensi nurani.

Pintar itu Culture, dicapai melalui proses pembelajaran mental dan pikiran. Sedangkan benar adalah Nature, dibawa sejak manusia dilahirkan. Dunia kita sekarang ini adalah dunianya orang pintar. Artinya siapa yang Pintar akan Benar. Kebenaran orang pintar adalah Konstruksi pikiran. Semuanya akan benar jika bangunan pikiran tersusun rapi dan menyatu, sesuai hukum logika dan akal.

Kebenaran orang pintar adalah kebenaran eksklusif dan isolatif, karena hanya benar dalam bangunannya sendiri. Artinya orang Pintar hanya benar di lingkungan yang bangunan pikirannya sama atau mirip.

Apa yang dinilai benar selalu mendatangkan perdebatan, karena kebenaran selalu dilihat dari sisi kepintaran. Dengan kepintaran “Kebenaran dapat dirubah menjadi Pembenaran”. Benar dan tidak benar dinilai dari alam kesadaran, yaitu Pikiran. Sedangkan Benar yang Hakiki adalah soal penghayatan, pengamalan, realitas obyektif.

Sejak masa balita kita telah belajar mengenali apa yang benar dan tidak benar. Benar itu akan terasa cocok dengan penghayatan manusia itu sendiri. Benar itu nyata, ada, terlihat, semua orang mampu melihat kebenaran itu. Karena mata balita belum dipengaruhi oleh kepintaran. Itulah bahasa balita, bahasa penghayatan, bahasa kebenaran, bahasa spontan, bahasa tanpa pikiran, bahasa nurani.

Kian dewasa kita kian kabur melihat kebenaran. Seolah kebenaran hanya ada di alam Maya, sedangkan kepintaran ada di alam Nyata. Kebenaran hanya dilihat dalam kepintaran merangkai kata-kata. Dengan kepintaran berkata-kata, kebenaran yang Nyata dapat diingkari dengan mudah.

Sebagai contoh, kebenaran berasal dari akar kata Benar. Apabila ia kemasukkan awalan KE dan akhiran AN, maka KEbenarAN memiliki konotasi positif. Apabila kemasukkan awalan PE dan akhiran AN, maka PEMbenarAN berkonotasi negatif. Lain halnya dengan kepintaran, ia berasal dari akar kata Pintar, maka apabila kemasukkan awalan KE dan akhiran AN, KEpintarAN berkonotasi Positif. Sedangkan bila kemasukkan awalan PE dan akhiran AN maka PEmintarAN berkonotasi makin positif.

Karena kebenaran adalah sesuatu yang hakiki dan berasal dari nurani, sedangkan pembenaran adalah suatu cara merubah yang hakiki menjadi majazi. Kepintaran adalah suatu cara olah pikir dan olah logika. Pemintaran adalah penyebarluasan olah pikir dan olah logika kepada masyarakat luas. Dengan demikian kepintaran lebih dihargai daripada kebenaran.

Manusia yang berbuat benar kini dinilai tidak pintar. Padahal seharusnya kita menjadi orang benar meski bukan orang pintar. Akan lebih baik lagi bila kita menjadi orang benar juga orang pintar. Daripada menjadi orang pintar tetapi tidak benar. Banyak orang yang mengaku bahwa dirinya Pintar, itu adalah sebuah pernyataan yang tidak benar. Bagi orang yang merasa dirinya benar, belum tentu pernyataannya dianggap pintar.

Dan kenyataannya di negeri yang kita cintai ini, kian banyak orang yang tidak benar sekaligus tidak pintar. Dengan kata lain “Banyak orang pintar tidak benar, dan banyak orang yang tidak benar juga tidak pintar”.

Karena kebenaran yang hakiki telah terbang entah kemana dan kian banyak orang yang tidak benar juga tidak pintar ikut mencarinya. Maka kebenaran telah pergi meninggalkan kita, terbang tinggi jauh ke alam raya. Yang tersisa tinggal pembenaran dari orang-orang yang tidak benar dan tidak pintar dengan cara melakukan pemintaran kepada orang-orang yang tidak benar.

Mana yang lebih Pintar antara Pintar dan Benar

atau

Mana yang lebih Benar antara Benar dan Pintar.

 

Bid. SDM

DKM Albarokah.

About Abu Muhtaramun 53 Articles
Tidak ada yang perlu diceritakan tentang siapa 'ABU MUHTARAMUN'. Karena ia bukan siapa siapa dan tidak menentang siapa pun juga. Jadi ia tidak perlu ditentang apalagi ditantang. Karena setiap Pertentangan berakibat pada Perselisihan dan berakhir pada Penantangan...? Cukup berkenalan saja. Karena Kenal itu perlu dan menjadi Terkenal itu penting. Makin terkenal makin banyak Kepentingan yang sebenarnya nggak penting penting sekali, mungkin dua-tiga kali bahkan berkali kali. Maafkan.

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*