HUKUM MANDI JUNUB DI AIR YANG TIDAK MENGALIR DAN HUKUM MANDI DI PEMANDIAN SECARA BERSAMA SAMA

Pertanyaan :

Bagaimana hukum syari’at dalam mandi junub dengan air tenang yang tidak mengalir,dan tahu bahwa di sana ada air di dalam kolam semacam lembah yang diam dalam jangka waktu yang lama,tidak berubah kecuali dengan air hujan di musim panas atau musim gugur,dan juga ada kolam masjid,bagaimana hukum melanggar larangan tersebut kemudian penduduk desa mendatangi kolam tersebut dan membuka aurat mereka didepan orang lain dengan mengangkat sarung mereka sampai ke atas lutut?

Jawaban Al-Lajnah ad-Dâ’imah lil-Buhûts al-‘Ilmiyyah wal-Iftâ (Komite Tetap untuk Riset Ilmiah dan Pusat Fatwa)  Saudi Arabia no ( 1641 ) :

Segala puji hanya milik Allah semata,Shalawat dan salam semoga tercurahkan kepada rasulnya keluarganya sahabatnya ,,amma Ba’du :

Pertama : Mandi junub di air yang tenang tidak mengalir tidak di perbolehkan,sebagaimana riwayat muslim dari hadist Abu Huraiah –Radhiyallahu ‘anhu- Nabi –Shallallahu alaihi wasallam- bersabda :

لا يغتسِلُ أحدُكم في الماءِ الدَّائم ِوهو جنُبٌ . فقالَ : كيفَ يفعَلُ يا أبا هُرَيرةَ ؟ قال : يتناولُها تناوُلًا

janganlah salah seorang dari kalian mandi di air yang tidak mengalir, sedangkan ia sedang junub”. Perawi bertanya kepada Abu Hurairah: “lalu seharusnya bagaimana wahai Abu Hurairah?”. Abu Hurairah menjawab: “seharusnya ia menciduknya” (HR. Bukhari no. 239, Muslim no. 283).

Kedua : Jika air telah sampai dua Qullah(1) atau lebih dan tidak berubah warnanya,rasanya,dan baunya maka boleh mandi dan wudhu di situ,dan boleh untuk bersuci dari hadast dan najis,jika air tersebut berubah dengan najis maka tidak sah dipakai bersuci dari hadast atau najis secara Ijma’,jika berubah dengan banyaknya orang yang mandi junub di situ,maka hukum air tersebut menjadi perbedaan di antara para ulama,yang lebih hati hati adalah tidak memakainya supaya keluar dari perbedaan ulama.

jika airnya kurang dari dua qullah dan di gunakan mandi oleh orang yang junub jika berubah dengan najis yang ada di badanya maka tidak sah di gunakan bersuci dari hadast dan najis,jika tidak berubah dengan najis maka hukumnya menjadi perbedaan para ulama apakah boleh untuk bersuci dari hadast dan najis atau tidak,dan yang lebih hati-hati adalah meninggalkan penggunaan air tersebut terlebih lagi jika mudah di dapatkan air yang lainya.

Ketiga : adapun yang banyak di lakukan oleh sebagian manusia dengan mandi junub di lembah,dan kamar mandi masjid tidak di perbolehkan wajib di berikan nasehat dan pengarahan jika di dengar Alhamdulillah jika tidak di berikan hukuman oleh yang berwajib supaya menjadikan efek jera.

Keempat : menutup aurat ketika menyendiri termasuk adab-adab islam,dan ini termasuk konskuensi kehidupan ini,dan menutupnya di depan selain istri dan budaknya adalah wajib,dan membukanya adalah haram,dan melihat aurat selain istri dan budaknya adalah haram,kecuali dengan darurat,sebagaimana di riwayatkan imam muslim dan lainya dari abu sa’id alkhudri –radhiyallahu anhu-bahwa rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda :

لاَ يَنْظُرُ الرَّجُلُ إِلَى عَوْرَةِ الرَّجُلِ وَلاَ الْمَرْأَةُ إِلَى عَوْرَةِ الْمَرْأَةِ، وَلاَ يُفْضِي الرَّجُلُ إِلَى الرَّجُلِ فِي الثَّوْبِ الْوَاحِدِ، وَلاَ تُفْضِي الْمَرْأَةُ إِلَى الْمَرْأَةِ فِي الثَّوْبِ الْوَاحِدِ.

“Janganlah seorang pria melihat aurat pria lainnya, dan jangan pula wanita melihat aurat wanita lainnya. Seorang pria tidak boleh bersama pria lainnya dalam satu kain, dan tidak boleh pula wanita bersama wanita lainnya dalam satu kain.” ( HR,Muslim,Tirmidzi, Ahmad ).

Dan bagi siapa saja yang melihat seseorang menyingkap auratnya hendaknya mengingatkanya dan mengingakarinya jika ia menerima Alhamdulillah dan jika tidak di berikan hukuman oleh pemerintah supaya mendapatkan efek jera.

Tambahan :

[1]Air dua qullah adalah air seukuran 500 rothl ‘Iraqi yang seukuran 90 mitsqol. Jika disetarakan dengan ukuran sho’, dua qullah sama dengan 93,75 sho’. Sedangkan 1 sho’ seukuran 2,5 atau 3 kg. Jika massa jenis air adalah 1 kg/liter dan 1 sho’ kira-kira seukuran 2,5 kg; berarti ukuran dua qullah adalah 93,75 x 2,5 = 234,375 liter. Jadi, ukuran air dua qullah adalah ukuran sekitar 200 liter. Gambaran riilnya adalah air yang terisi penuh pada bak yang berukuran 1 m x 1 m x 0,2 m. ( Lihat Tawdhihul Ahkam min Bulughil Marom, Syaikh Ali Basam, 1/116, Darul Atsar, cetakan pertama, 1425 H ).

28 Januari 2018

Abu Ukasyah Muhson Boydlowi

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *