Aqidah Ahlussunnah Waljama’ah tentang Nama-nama dan Sifat Allah ( Prinsip –Prinsip Aqidah ASWAJA 3 )

13-الأصل في اسماء الله و صفاته إثبات ماأثبته الله لنفسه اواثبته له رسوله صلى الله عليه وسلم من غر تمثيل ولا تكييف ونفي ما نفاه الله عن نفسه او نفاه عنه رسوله من غير تحريف ولا تعطيل كما قال تعالى: ليس كمثله شيئ وهو السميع البصير مع الإيمان بمعاني ألفاظ النصوص وما دلت عليه

14-التمثيل والتعطيل في أسماء الله وسفاته كفر. أما التحريف الذي يسميه أهل البدع تأويلا فمنه ما هو كفر كتأويلات الباطنية ومنه ما هو بدعة ضلالة كتأويلات نفات الصفات ومنه ما يقع خطأ.

15-وحدة الوجود واعتقاد حلول الله تعالى في شيئ من مخلوقاته او اتحاده به كل ذلك كفرمخرج عن الملة.

  1. Prinsip penting dalam masalah nama-nama dan sifat Allah adalah menetapkan apa yang ditetapkan Allah Ta’ala untuk Diri-Nya atau yang ditetapkan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam untuk-Nya tanpa mentamtsil (menyerupakan dengan sifat makhluk) dan tanpa takyif (menanyakan bagaimana hakikatnya), serta meniadakan segala sifat yang ditiadakan Allah bagi Diri-Nya atau ditiadakan Rasul-Nya tanpa mentahrif (menta’wil) dan tanpa menta’thil (meniadakan), sebagaimana firman Allah Ta’ala: “Tidak ada sesuatu pun yang serupa dengan Dia, dan Dia Maha Mendengar lagi Maha Melihat.” (Asy Syura: 11) disertai dengan mengimani makna (kandungan) dari lafaz nash-nash tersebut dan yang ditunjukkan olehnya.
  2. Mentamtsil dan menta’thil nama-nama Allah dan sifat-Nya adalah sebuah kekufuran. Adapun tahrif atau yang biasa disebut ahlul bid’ah sebagai ta’wil, maka ada yang kufur seperti ta’wilnya kaum Bathiniyyah, ada juga yang merupakan bid’ah dhalalah (sesat) seperti ta’wil orang-orang yang menafikan sifat dan ada yang berupa kekeliruan (tanpa disengaja).
  3. Keyakinan Wihdatul wujud (semua yang wujud adalah Allah) dan keyakinan hulul (Allah menempati makhluk-Nya) atau ittihad (Allah menyatu dengan makhluk-Nya) adalah keyakinan kufur dan menjadikan pelakunya keluar dari Islam. (Mujmal Ushul Ahlissunah karya Dr. Nashir Al ‘Aql)

Penjelasan:

No. 13 & 14: Al Walid bin Muslim pernah bertanya kepada Imam Malik, Al Auza’iy, Al Laits bin Sa’ad dan Sufyan Ats Tsauriy tentang khabar (berita) yang datang mengenai sifat-sifat Allah, mereka semua menjawab:

أَمِرُّوْهَا كَمَا جَاءَتْ بِلاَ كَيْفَ

“Perlakukanlah (nash-nash tentang sifat Allah) sebagaimana datangnya dan jangan kamu tanyakan bagaimana (sifat itu).”

Oleh karena itu, dalam masalah nama-nama Allah dan sifat-Nya, sikap kita adalah menetapkan-Nya mengikuti apa yang ditetapkan Allah Subhaanahu wa Ta’aala untuk Diri-Nya dan Rasul-Nya, serta menolak segala sifat yang ditiadakan oleh Allah Subhaanahu wa Ta’aala dan Rasul-Nya. Ketika kita menetapkan sifat tersebut, kita tidak boleh menyamakan dengan sifat makhluk dan tidak boleh menanyakan bagaimana sifat Allah. Demikian juga kita tidak boleh menta’wil, yakni merubah lafaz nama dan sifat, atau merubah maknanya atau menyelewengkan dari makna yang sebenarnya. Contohnya mengartikan “Tangan” dengan kekuasaan atau mengartikan “bersemayam” dengan menguasai, ini semua termasuk ta’wil. Kita juga tidak menta’thil (menolak) nama-nama Allah dan sifat-Nya yang telah ditetapkan Allah dan Rasul-Nya, karena hal ini sama saja tidak beriman. Oleh karena itu, menta’thil adalah sebuah kekufuran, sebagaimana menyamakan sifat Allah dengan sifat makhluk juga sebagai kekufuran. Adapun ta’wil, maka ada perincian, ada yang menjadi sebuah kekufuran seperti ta’wil kaum Bathiniyyah, ada yang sebatas bid’ah dhalalah seperti ta’wil orang-orang yang meniadakan sifat dan ada yang terjadi karena kekeliruan.

Perlu diketahui, ‘Aqidah Ahlus Sunnah wal Jama’ah dalam masalah sifat Allah didasari atas dua prinsip:

Pertama, bahwa Allah Subhaanahu wa Ta’aala wajib disucikan dari semua sifat kekurangan secara mutlak, seperti ngantuk, tidur, lemah, bodoh, mati dan lainnya.

Kedua, Allah mempunyai sifat-sifat yang sempurna yang tidak ada kekurangan sedikit pun juga, tidak ada sesuatu pun dari makhluk-Nya yang menyamai sifat Allah.

 

Marwan bin Musa

Maraji’: Mujmal Ushul Ahlis Sunnah wal Jama’ah (Dr. Nashir bin Abdul Karim Al ‘Aql), Syarah ‘Aqidah Ahlus Sunnah wal Jama’ah (Ust. Yazid bin Abdul Qadir Jawas), Taujihul Qaari (Hafizh Tsanallah Az Zaahidiy) dll.

wawasankeislaman.blogspot.co.id

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *