Pengertian Aqidah dan Sumber Rujukan ‘Aqidah Ahlussunnah wal Jama’ah I ( Prinsip –Prinsip Aqidah ASWAJA 1 )

‘Aqidah ibarat pondasi dalam sebuah banguan. Bangunan agar kuat harus diperkuat pondasinya, jika tidak kuat, maka bangunan yang didirikan di atasnya mudah roboh. Inilah sebabnya mengapa kita harus mempelajari ‘aqidah Islam.

Ta’rif ‘Aqidah Islam

‘Aqidah secara bahasa berasal dari kata ‘aqd yang berarti mempererat, mengokohkan dan mengikat dengan kuat. Secara istilah ‘aqidah adalah keyakinan yang kuat yang tidak dimasuki oleh keraguan. Dengan demikian, Aqidah Islam berarti keimanan yang kuat kepada Allah Ta’ala dengan  melaksanakan kewajiban berupa tauhid dan taat kepada-Nya, demikian juga beriman kepada malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya, para rasul-Nya, hari akhir dan beriman kepada qadar serta mengimani semua yang sudah shahih tentang prinsip-prinsip agama (ushuluddin), perkara-perkara yang ghaib, berita yang disebutkan dalam Al Qur’an maupun As Sunnah baik ‘ilmiyyah (sebagai pengetahuan yang harus diyakini) maupun amaliyyah (pengetahuan yang harus diamalkan).

Nama lain ‘Aqidah Islam

Nama lain ‘Aqidah Islam menurut Ahlus Sunnah di antaranya adalah Al I’tiqad, Al ‘Aqaa’id, At Tauhid, As Sunnah, Ushuluddin, Ushuluddiyaanah, Al Fiqhul Akbar dan Asy Syarii’ah. Inilah beberapa nama yang paling terkenal di kalangan Ahlus Sunnah. Adapun penamaan ‘Aqidah Islam dengan ilmu kalam, filsafat, tashawwuf dan teologi tidaklah dibenarkan, karena perbedaan yang mencolok dalam ilmu-ilmu tersebut dengan ‘Aqidah Islam. Dalam ilmu kalam dan filsafat, misalnya, yang dijadikan sandaran adalah akal bukan wahyu.

Sedangkan dalam ilmu tashawwuf di antara sandarannya adalah kasyf (adanya penyingkapan tabir rahasia sesuatu yang ghaib). Adapun yang dijadikan sandaran dalam ‘Aqidah Islam adalah Al Qur’an, As Sunnah yang shahih dan ijma’ salafush shalih (generasi pertama Islam). Di samping itu, jika akal dijadikan sandaran untuk menetapkan ‘aqidah hasilnya hanyalah zhann (perkiraan) yang bisa benar dan bisa salah karena keterbatasannya dan tidak mampu menjangkau yang ghaib. Lalu bagaimana jika perkiraannya salah, maka sama saja ia telah berkata tentang Allah Ta’ala tanpa ilmu, dan yang demikian merupakan dosa yang sangat besar. Allah Ta’ala berfirman:

“……dan (mengharamkan) mengada-ada terhadap Allah apa yang tidak kamu ketahui.” (Terj. QS. Al A’raaf: 33)

Oleh karena itu, prinsip kita dalam masalah ‘Aqidah adalah tauqifiyyah (diam menunggu dalil).

Pentingnya mengenal ‘Aqidah Islam atau ‘Aqidah Ahlussunnah wal Jama’ah secara tafsil (rinci)

Banyak orang yang mengaku dirinya Ahlussunnah wal Jama’ah, akan tetapi dalam perjalanannya ternyata banyak menyelisihi Aqidah Ahlussunnah wal Jama’ah. Hal ini tidak lain, karena pengenalan mereka tentang Ahlussunnah wal Jama’ah masih bersifat mujmal (garis besar) atau tidak terperinci. Secara umum, memang mereka mengikuti sunnah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, karena tidak ada seorang muslim pun kecuali yang dijadikan acuan dalam hidupnya adalah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Akan tetapi sangat disayangkan, mereka tidak mengerti lebih rinci ‘Aqidah Ahlussunnah wal Jama’ah sehingga banyak praktek yang dilakukan mereka ternyata bertentangan dengan ‘Aqidah Ahlussunnah wal Jama’ah. Nah, pada risalah yang singkat ini, kami akan jelaskan lebih rinci ‘Aqidah Ahlussunnah wal Jama’ah yang merupakan ‘Aqidah salafush shaalih terdahulu –insya Allah-.

Sumber Rujukan ‘Aqidah Ahlussunnah wal Jama’ah

1-     مصدر العقيدة هو كتاب الله وسنة رسول الله صلى الله عليه وسلم وإحماع السلف الصالح

2-     كل ما صح من سنة رسول الله صلى الله عليه وسلم وجب قبوله وإن كان احادا

3-     المرجع في فهم الكتاب والسنة هو النصوص المبينة لها وفهم السلف الصالح ومن سار على منهجهم من الأئمة ولا يعارض ما ثبت من ذلك بمجرد احتمالات لغوية

  1. Sumber pengambilan ‘Aqidah Islam adalah kitab Allah, Sunnah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan Ijma’ salafush shaalih.
  2. Semua yang shahih dari sunnah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam wajib diterima meskipun jalur periwayatannya Ahad.
  3. Yang dijadikan rujukan dalam memahami Al Qur’an dan As Sunnah adalah nash-nash yang menerangkannya, pemahaman salafush shaalih dan pemahaman orang-orang yang mengikuti jejak mereka di kalangan para ulama. Semua yang telah tsabit (sahih) tidak bisa ditolak dengan kemungkinan-kemungkinan lain dari sisi bahasa. (Mujmal Ushul Ahlissunah karya Dr. Nashir Al ‘Aql)

Penjelasan:

No. 1: Tentang kehujjahan Al Qur’an dan As Sunnah sudah kita ketahui bersama, adapun tentang kehujjahan ijma’ salafush shaalih (para sahabat, tabi’in, dan tabi’ut tabi’in) adalah sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam:

أُوصِيكُمْ بِتَقْوَى اللهِ، وَالسَّمْعِ وَالطَّاعَةِ، وَإِنْ كَانَ عَبْدًا حَبَشِيًّا، فَإِنَّهُ مَنْ يَعِشْ مِنْكُمْ بَعْدِي فَسَيَرَى اخْتِلَافًا كَثِيرًا، فَعَلَيْكُمْ بِسُنَّتِي وَسُنَّةِ الْخُلَفَاءِ الرَّاشِدِينَ الْمَهْدِيِّينَ، تَمَسَّكُوا بِهَا، وَعَضُّوا عَلَيْهَا بِالنَّوَاجِذِ، وَإِيَّاكُمْ وَمُحْدَثَاتِ الْأُمُورِ، فَإِنَّ كُلَّ مُحْدَثَةٍ بِدْعَةٌ، وَكُلَّ بِدْعَةٍ ضَلَالَةٌ . ‌

“Aku wasiatkan kalian agar bertakwa kepada Allah, mendengar dan ta’at meskipun yang memerintah kalian seorang budak Habasyah. Sesungguhnya orang yang hidup setelahku nanti akan melihat perselisihan yang banyak, maka berpeganglah kalian dengan sunnahku dan sunnah khulafaa’urraasyidin yang lurus; peganglah sunnah itu dan genggamlah dengan gigi gerahammu serta jauhilah perkara yang diada-adakan (dalam agama), karena setiap yang diada-adakan (dalam agama) adalah bid’ah dan setiap bid’ah adalah sesat.” (HR. Ahmad, Abu Dawud, Tirmidzi, Ibnu Majah dan Hakim, dishahihkan oleh Syaikh Al Albani dalam Shahihul Jaami’ no. 2549)

Khulafau’rrasyidin yang lurus di hadits ini adalah Abu Bakar, Umar, Utsman, dan Ali radhiyallahu ‘anhum yang mewakili para sahabat secara umum dan sebagai manusia terbaik umat ini setelah nabinya.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

إِنَّ اللهَ تَعَالَى قَدْ أَجَارَ أُمَّتِي أَنْ تَجْتَمِعَ عَلَى ضَلاَلَةٍ

“Sesungguhnya Allah Ta’ala telah melindungi umatku dari berkumpul di atas kesesatan.” (HR. Ibnu Abi ‘Ashim, dan dihasankan oleh Al Albani dalam Shahihul Jami’ no. 1786)

خَيْرُ النَّاسِ قَرْنِي ثُمَّ الَّذِيْنَ يَلُوْنَهُمْ ثُمَّ الَّذِيْنَ يَلُوْنَهُمْ

“Sebaik-baik manusia adalah pada zamanku, kemudian setelahnya, dan setelahnya.” (HR. Ahmad, Bukhari, Muslim, dan Tirmidzi).

Ibnu Mas’ud radhiyallahu ‘anhu berkata,

إِنَّ اللهَ نَظَرَ فِي قُلُوبِ الْعِبَادِ، فَوَجَدَ قَلْبَ مُحَمَّدٍ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ خَيْرَ قُلُوبِ الْعِبَادِ، فَاصْطَفَاهُ لِنَفْسِهِ، فَابْتَعَثَهُ بِرِسَالَتِهِ، ثُمَّ نَظَرَ فِي قُلُوبِ الْعِبَادِ بَعْدَ قَلْبِ مُحَمَّدٍ، فَوَجَدَ قُلُوبَ أَصْحَابِهِ خَيْرَ قُلُوبِ الْعِبَادِ، فَجَعَلَهُمْ وُزَرَاءَ نَبِيِّهِ، يُقَاتِلُونَ عَلَى دِينِهِ، فَمَا رَأَى الْمُسْلِمُونَ حَسَنًا، فَهُوَ عِنْدَ اللهِ حَسَنٌ، وَمَا رَأَوْا سَيِّئًا  فَهُوَ عِنْدَ اللهِ سَيِّئٌ ”

“Sesungguhnya Allah melihat hati hamba-hamba-Nya, lalu Dia mendapatkan hati Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam sebaik hati yang paling baik dari hamba-hamba-Nya, maka Dia pilih Beliau untuk Diri-Nya. Dia mengutusnya untuk membawa risalah-Nya. Selanjutnya, Dia melihat hati hamba-hamba-Nya setelah hati Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam, maka Dia mendapatkan hati para sahabatnya sebagai hati yang paling baik dari hamba-hamba-Nya, maka Dia jadikan mereka sebagai pembantu Nabi-Nya, mereka berperang di atas agama-Nya. Oleh karena itu, yang dipandang baik oleh kaum muslim (para sahabat), maka di sisi Allah juga baik. Dan apa saja yang mereka pandang buruk, maka hal itu buruk pula di sisi Allah.” (Atsar ini diriwayatkan oleh Ahmad, Thayalisi, Al Bazzar, Ath Thabrani dalam Al Kabir, Abu Nu’aim, Ibnul A’rabiy, Al bagahwi, dan Al Khathib. Dinyatakan isnadnya hasan oleh Pentahqiq Musnad Ahmad).

Di samping itu, karena para sahabat hidup bersama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam atau dekatnya masa mereka dengan masa Beliau, mereka lebih mengetahui bagaimana perjalanan Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam, mereka di bawah tarbiyah Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam sehingga masih murni belum tercampuri syubhat dan pemikiran-pemikiran yang menyimpang seperti yang menimpa generasi setelah mereka. Oleh karena itu, Beliau memerintahkan kita melihat dan mengikuti mereka di saat terjadinya banyak perselisihan dan banyaknya aliran agar dapat mengetahui sunnah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam yang sesungguhnya.

No. 2: Hadits Ahad adalah hadits yang tidak mencapai derajat mutawatir. Para ulama membagi hadits kepada mutawatir dan ahad bukanlah bermaksud untuk menolak hadits, akan tetapi untuk memposisikan bahwa hadits ini tergolong ahad dan hadits ini tergolong mutawatir karena jumlah para perawinya. Hadits ahad jika shahih wajib diterima secara mutlak baik dalam masalah ‘Aqidah maupun hukum. Dalil diterimanya hadits ahad jika shahih banyak sekali, di antaranya ayat berikut:

“Wahai orang-orang yang beriman! Jika datang kepadamu orang fasik membawa suatu berita, Maka periksalah dengan teliti …” (Terj. QS. Al Hujuraat: 6)

Dan firman Allah Ta’ala di surat At Taubah: 122.

Mafhum ayat di atas adalah bahwa jika yang datang adalah orang yang adil, maka diterima perkataannya tanpa perlu meneliti lagi. Belum lagi di dalam hadits, sungguh sangat banyak, bahkan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengirim sahabatnya seorang atau dua orang ke tempat tertentu untuk mendakwahkan Islam dan mencukupkan diri dengannya, seperti diutusnya Mu’adz bin Jabal ke Yaman. Kalau seandainya hal itu tidak cukup tentu Beliau akan mengirimkan dalam jumlah banyak.

 

No. 3: Untuk keterangan nomor ini, kami kira cukup apa yang dikatakan oleh Al Hafizh Ibnu Katsir rahimahullah dalam mukaddimah kitab tafsirnya sbb:

“Apabila ada seseorang yang bertanya, “Apa cara terbaik dalam menafsirkan (Al Qur’an)?” Jawab: “Sesungguhnya cara terbaik dalam hal ini adalah menafsirkan Al Qur’an dengan (penjelasan) Al Quran, yang masih belum jelas di ayat ini mungkin dijelaskan di ayat lain, bila kamu tidak menemukan (penjelasan di ayat lain), maka dengan melihat As Sunnah, karena ia adalah pensyarah Al Qur’an dan penjelasnya…dst.” Kemudian Ibnu Katsir melanjutkan, “Bila kita tidak menemukan (penjelasannya) dalam Al Qur’an dan As Sunnah, maka kita melihat pendapat para sahabat, karena mereka lebih tahu tentang hal itu…dst”. Ibnu Katsir berkata lagi, “Bila kamu tidak menemukan dalam Al Qur’an, As Sunnah juga dari para sahabat, maka dalam hal ini para imam melihat pendapat para taabi’iin…dst.”

**********

4-     أصول الدين كلها قد بينها النبي صلى الله عليه وسلم وليس لأحد أن يحدث شيئا زاعما أنه من الدين

5-     التسليم لله ولرسوله صلى الله عليه وسلم ظاهرا وباطنا فلا يعارض شيئ من الكتاب أو السنة الصحيحة بقياس ولا ذوق ولا كشف ولا قول شيخ ولا إمام ونحو ذلك

6-     العقل الصريح موافق للنقل الصحيح ولا يتعارض قطعيان منهما أبدا وعند توهم التعارض يقدم النقل

  1. Prinsip-prinsip agama (Ushuluddin) semuanya telah diterangkan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Oleh karena itu, tidak diperkenankan bagi seseorang mengadakan sesuatu sambil beranggapan bahwa ia termasuk bagian agama.
  2. Tunduk kepada Allah dan Rasul-Nya shallallahu ‘alaihi wa sallam baik zhahir maupun batin, sehingga tidak boleh mempertentangkan satu pun bagian dari Al Qur’an atau As Sunnah yang shahih dengan qiyas, dzauq (perasaan), kasyf (penyingkapan tabir rahasia), pendapat syaikh, pendapat imam dsb.
  3. Akal yang benar akan selalu sama dengan nash/dalil yang shahih. Keduanya jika qath’i (pasti) tidak akan bertentangan selama-lamanya, dan jika nampak seperti bertentangan, maka dalil harus didahulukan. (Mujmal Ushul Ahlissunah karya Dr. Nashir Al ‘Aql).

Penjelasan:

No. 4: Imam Malik rahimahullah berkata: “Barangsiapa yang mengada-ada dalam Islam suatu bid’ah yang dipandangnya baik, maka sesungguhnya ia telah menyangka bahwa Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam telah mengkhianati risalahnya, karena Allah Ta’ala berfirman “Pada hari ini telah Kusempurnakan untuk kamu agamamu “, maka apa saja yang dahulu tidak termasuk bagian agama, sekarang pun sama tidak termasuk bagian agama.”

No. 5: Imam Muhammad bin Syihab Az Zuhriy rahimahullah berkata: “Allah yang menganugerahkan risalah (mengutus para rasul), kewajiban rasul adalah menyampaikan risalah, sedangkan kewajiban kita adalah tunduk menerima.” (Diriwayatkan oleh Bukhari).

Oleh karena itu, tidak boleh mempertentangkan Al Qur’an dan As Sunah dengan qiyas, dzauq (perasaan) dsb. Bahkan qiyas tidak berlaku jika masih ada nash. Dzauq (perasaan) dan kasyf sebagaimana telah diterangkan sebelumnya tidak bisa dijadikan rujukan dalam menetapkan ‘Aqidah; apalagi jika dipakai untuk mempertentangkan Al Qur’an dan As Sunnah. Demikian juga tidak boleh mempertentangkan Al Qur’an dan As Sunnah dengan perkataan ulama, imam dsb. Yakni jika telah jelas baginya dalil, lalu ia meninggalkannya hanya karena mengikuti pendapat ulama atau imam tersebut. Imam Syafi’i rahimahullah, “Kaum muslim sepakat bahwa barangsiapa yang telah jelas baginya suatu sunnah dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, maka ia tidak boleh meninggalkannya hanya karena mengikuti seseorang.” (Lih. Kitab Shifat Shalat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam karya Syaikh Al Albani)

No. 6: Adanya kemungkinan bahwa akal sehat bertentangan dengan dalil sangat mustahil sekali, hal ini dapat diketahui dengan jelas setelah anda memperhatikan penjelasan berikut:

Pertama, Allah Subhaanahu wa Ta’aala mengarahkan firman-Nya kepada mereka yang berakal (lihat QS. Shaad: 43).

Kedua, Allah Ta’ala mencela orang-orang yang tidak mau menggunakan akalnya (lihat QS. Al Mulk: 10)

Ketiga, seringnya disebutkan dalam Al Qur’an anjuran berfikir, seperti kalimat “afalaa tatafakkaruun”, “la’allakum tatafakkaruun” dan lainnya.

Keempat, Al Qur’an dan As Sunnah mencela sikap taqlid (ikut-ikutan tanpa ilmu), di mana hal itu dapat membatasi dan melumpuhkan fungsi dan kerja akal (lihat QS. Al Baqarah; 170)

Kelima, Allah Ta’ala memuji orang-orang yang menggunakan akalnya (lihat QS. Az Zumar: 17-18)

Keenam, terbatasnya ruang lingkup yang dijangkau oleh akal dan pikiran manusia (lihat QS. Al Israa’: 85 yang menerangkan tentang ruh), ayat ini menunjukkan posisi akal di bawah dalil.

Masih adakah anggapan kemungkinan bertentangan, padahal dalil secara tegas memuliakan akal dan menyuruh untuk berfikir?!

Kritik para ulama Islam terhadap ilmu kalam atau ilmu filsafat yang berbicara tentang ketuhanan

Sedih rasanya hati ini, ketika filsafat dijadikan rujukan dalam Aqidah atau sebagai materi Ushuluddin seperti yang terjadi di banyak perguruan tinggi Islam akibatnya para mahasiswa yang lulus daripadanya memiliki pemikiran-pemikiran yang aneh dan menyimpang bahkan ada yang menjurus kepada kekufuran, padahal para ulama telah mengingatkan kita untuk menjauhi ilmu tersebut.

Imam Abu Hanifah berkata, “Aku telah menjumpai para ahli kalam. Hati mereka keras, jiwanya kasar, tidak peduli jika mereka bertentangan dengan Al Qur’an dan As Sunnah. Mereka tidak memiliki wara’ dan tidak juga takwa.”

Al Qaadhiy Abu Yusuf berkata, “Mengetahui ilmu kalam adalah suatu kebodohan dan bodoh tentang ilmu kalam adalah sebuah pengetahuan.”

Imam Ahmad berkata, “Pemilik ilmu kalam tidak akan beruntung selamanya. Para ulama kalam itu adalah orang-orang zindiq.”

Terhadap ilmu tersebut Imam Syafi’i membuat sya’ir:

كُلُّ الْعُلُوْمِ سِوَى الْقُرْآنِ مُشْغِلَةٌ

إِلاَّ الْحَدِيْثَ وَالْفِقْهَ فِى الدِّيْنِ

الْعِلْمُ مَا كَانَ فِيْهِ قَالَ حَدَّثَنَا

وَمَاسِوَى ذَلِكَ وَسْوَاسُ الشَّيَاطِيْنِ

“Semua ilmu selain Al Qur’an (seperti ilmu kalam) hanyalah menyibukkan, selain hadits dan mendalami agama.

Ilmu adalah yang tercantum di dalamnya kata “telah menyampaikan sebuah hadits kepada kami”, sedangkan selain itu hanyalah gangguan setan belaka.”

Disebutkan dalam Syarh Ath Thahawiyyah (hal. 177 cet. Wazaratusy Syu’unil Islamiyyah, KSA), bahwa Imam Al Ghazaliy rahimahullah pada akhir hidupnya bersikap diam dan merasa bingung terhadap ilmu kalam, lalu Beliau berpaling dari metode-metode itu dan mendatangi hadits-hadits Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, dan Beliau wafat dalam keadaan Shahih Bukhari di atas dadanya.

Imam Abu Abdillah Muhammad bin Umar Ar Raziy -dimana sebelumnya ia adalah seorang tokoh Ahli Kalam- berkata,

نِهَايَةُ إِقْدَامِ الْعُقُولِ عِقَالُ – وَغَايَةُ سَعْيِ الْعَالَمِينَ ضَلَالُ

وَأَرْوَاحُنَا فِي وَحْشَةٍ مِنْ جُسُومِنَا – وَحَاصِلُ دُنْيَانَا أَذَى وَوَبَالُ

وَلَمْ نَسْتَفِدْ مِنْ بَحْثِنَا طُولَ عُمْرِنَا – سِوَى أَنْ جَمَعْنَا فِيهِ: قِيلَ وَقَالُوا

Akhir dari mendahulukan akal adalah iqal (berputar-putar seperti ikat kepala)

Akhir dari usahanya adalah kesesatan

Ruh yang ada di jasad kami merasakan kerisauan

Hasil yang diperoleh dari dunia kami hanyalah penderitaan dan kesusahan

Kami tidak memperoleh dari penelitian kami sepanjang usia

Selain hanya mengumpulkan qiila wa qaalu (dikatakan dan katanya) 

Selanjutnya ia berkata, “Saya telah meneliti metode Ahli Kalam dan manhaj-manhaj filsafat, namun menurutku semua itu tidak menyembuhkan penyakit yang ada dan tidak memberikan kepuasan. Aku telah menyaksikan, bahwa sebaik-baik metode adalah metode Al Qur’an. Aku membaca ayat tentang menetapkan (sifat),

الرَّحْمَنُ عَلَى الْعَرْشِ اسْتَوَى

“Tuhan yang Maha Pemurah. yang bersemayam di atas ‘Arsy.” (Terj. QS. Thaahaa: 5),

إِلَيْهِ يَصْعَدُ الْكَلِمُ الطَّيِّبُ

Kepada-Nyalah naik perkataan-perkataan yang baik dan amal yang saleh dinaikkan-Nya.” (Terj. QS. Fathir: 10),

dan aku membaca ayat yang tentang penafian,

لَيْسَ كَمِثْلِهِ شَيْءٌ

Tidak ada sesuatu pun yang serupa dengan Dia, dan Dia-lah yang Maha mendengar dan melihat.” (Terj. QS. Asy Syuuraa: 11)

وَلَا يُحِيطُونَ بِهِ عِلْمًا

“Sedang ilmu mereka tidak dapat meliputi ilmu-Nya.” (QS. Thaahaa: 110)

Lalu ia berkata, “Barang siapa yang melakukan percobaan seperti yang aku lakukan, tentu dia akan mengetahui seperti yang aku ketahui.”

Wallahu a’lam.

Marwan bin Musa

Maraji’: Mujmal Ushul Ahlis Sunnah wal Jama’ah (Dr. Nashir bin Abdul Karim Al ‘Aql), Syarah Ath Thahawiyah (Ibnu Abil ‘Iz Al Hanafi), Syarah ‘Aqidah Ahlus Sunnah wal Jama’ah (Ust. Yazid bin Abdul Qadir Jawas), Shifat shalatin Nabi (Syaikh Al Albani) dll.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *