Kisah-Kisah Mencengangkan Para Ulama Menuntut Ilmu [bagian pertama]

Imam Abu Hanifah rahimahullah berkata,

«الحكايات عن العلماء ومجالستهم أحب إلي من كثير من الفقه؛ لأنها آداب القوم وأخلاقهم»

 “Kisah-kisah (keteladanan) para ulama dan duduk di majelis mereka lebih aku sukai dari pada kebanyakan (masalah-masalah) fikh, karena kisah-kisah tersebut (berisi) adab dan tingkah laku mereka (untuk diteladani)” [1]

 

Demikianlah para ulama menerangkan bahwa terkadang membaca kisah-kisah para nabi, orang shalih dan ulama lebih disukai daripada mempelajari teori, karena mereka adalah praktek nyata dari teori yang dipelajari. Kemudian jika kira merasa futur/sedang tidak semangat dalam beragama maka salah satu cara agar semangat lagi adalah dengan melihat dan membaca kembali kisah-kisah mereka.

 

‘Ali bin Husain bin ‘Ali bin Abi Thalib – Zainul ‘Abidin- berkata,

كنا نعلم مغازي النبي صلى الله عليه و سلم وسراياه كما نعلم السورة من القرآن

 “Dulu kami diajarkan tentang (sejarah) peperangan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam sebagaimana al-Qur’an diajarkan kepada kami”[2]

Allah Ta’ala berfirman,

لَقَدْ كَانَ فِي قَصَصِهِمْ عِبْرَةٌ لِأُولِي الْأَلْبَابِ مَا كَانَ حَدِيثًا يُفْتَرَى وَلَكِنْ تَصْدِيقَ الَّذِي بَيْنَ يَدَيْهِ وَتَفْصِيلَ كُلِّ شَيْءٍ وَهُدًى وَرَحْمَةً لِقَوْمٍ يُؤْمِنُون

“Sesungguhnya pada kisah-kisah mereka (para Nabi ‘alaihis salam dan umat mereka) itu terdapat pelajaran bagi orang-orang yang mempunyai akal (sehat). al-Qur’an itu bukanlah cerita yang dibuat-buat, akan tetapi membenarkan (kitab-kitab) yang sebelumnya dan menjelaskan segala sesuatu, serta sebagai petunjuk dan rahmat bagi orang-orang yang beriman” (Yusuf:111)

Kemudian kami bawakan kisah-kisah para ulama, karena mereka adalah manusia biasa seperti kita untuk menghilangkan komentar yang terkadang terlintas di hati kita yang lemah seperti,

“Mereka kan nabi dan Rasul, pantesan bisa seperti itu”

berikut ringkasan kisah mereka, semoga bisa menambah semangat kita

 

Perjalanan jauh untuk ilmu

Seseorang jika ingin mendapatkan ilmu maka ia harus keluar dari rumahnya dan mencari ilmu. Imam Bukhari berkata dalam shahihnya,

باب الخروج في طلب العلم

“Bab keluar untuk menuntut ilmu”

 

Seorang tabi’in terkenal Sa’id bin Al-Musayyab rahimahullah berkata,

إن كنت لأسير الليالي والأيام في طلب الحديث الواحد

“Sesungguhnya aku berjalan berhari-hari dan bermalam-malam untuk mencari satu hadits.”[3]

 

Ibnul Jauziy berkata,

طاف الإمام أحمد بن حنبل الدنيا مرتين حتى جمعالمسند

“Imam Ahmad bin Hambal keliling dunia dua kali hingga dia bisa mengumpulkan musnad.”[4]

 

Imam Ahmad bin Hambal rahimahullah bercerita sendiri,

سَافَرت فى طلب الحَدِيث وَالسّنة إِلَى الثغور والشامات والسواحل وَالْمغْرب والجزائر وَمَكَّة وَالْمَدينَة والعراقين وَأَرْض حوران وَفَارِس وخراسان وَالْجِبَال والأطراف

“Aku mengembara mencari hadist dan sunnah ke Tsughur, wilayah Syam, Sawahil, Maroko, Al-Jazair, Makkah, Madinah, Iraq, Wilayah Hawran, Persia, Khurasan, gunung-gunung dan penghujung dunia.”[5]

 

Dari Abdurrahman, aku mendengar Ubai berkata,

أول سنة خرجت في طلب الحديث أقمت سبع سنين أحصيت ما مشيت على قدمي زيادة على ألف فرسخ : لم أزل أحصى حتى لما زاد على ألف فرسخ تركته

“Tahun pertama mencari hadits, aku keluar mengembara mencari hadits selama 7 tahun, menurut perkiraanku aku telah berjalan kaki lebih dari seribu farsakh (+ 8 km). Aku terus terus menghitung hingga ketika telah lebih dari seribu farsakh, aku menghentikannya.”[6]

 

Ibnu mandah berkata,

طُفت الشَّرقَ وَالغربَ مرَّتين

“saya mengelilingi timur dan barat (untuk menuntut ilmu) sebanyak dua kali”[7]

 

BERSAMBUNG INSYAALLAH…

 

[1] Jaami’u bayaanil ‘ilmi wa fadhlihi  I/509 no.819, Darul Ibnu Jauzi, cet.I, 1414 H, syamilah

[2] “al-Jaami’ li akhlaaqir raawi 2/195, Maktabah Al-Ma’arif, Riyadh, 1430 H, syamilah

[3] Jaami’u bayaanil ‘ilmi wa fadhlihi  I/395 no.569, Darul Ibnu Jauzi, cet.I, 1414 H, syamilah

[4] Shaidul Khatir hal.246, dikutip dari www.alhanabila.com

[5] Al-Maqshadul Arsyad 1/113-114, Maktabah Ar-Rusyd, Riyadh, cet.I, 1410 H, Syamilah

[6] Al-Jarh wa At-ta’dil 1/359,  Dar Ihya’ At-turats, Beirut, cet. I, 1427 H, Syamilah

[7] Siyar A’lam An-nubala 12/503 Darul Hadits, koiro, 1427 H, syamilah

 

Lombok, pulau seribu masjid

5 Sya’banl 1433 H, Bertepatan 25  Juni 2012

Penyusun: Raehanul Bahraen

Artikel www.muslimafiyah.com

singlepost-ic By muhson baydlowi Category: Akhlak

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *